Archive for December, 2007

h1

Ludruk, Riwayatmu Kini

December 27, 2007

Gedung itu terbuat dari papan tripleks, dan anyaman bambu. Bangku penontonnya dari kayu yang memanjang. Lantai gedung masih berupa tanah. Gambar latar belakang yang kusam, menghiasi panggung yang berukuran 6×4 meter persegi. Di samping kiri dan kanan panggung ada petak-petak kecil yang dipakai sebagai tempat tidur anggota, termasuk anak-anak dan keluarga mereka. Ada 50 orang anggota kelompok dan itu tidak termasuk keluarganya. Tempat rias didesain di sisi kiri panggung, di atas tempat tidur di sebelah selokan. Mungkin saat ini satu-satunya kelompok ludruk yang berani mendirikan tobong (gedung pertujukan sekaligus tempat tinggal semi permanen), adalah Irama Budaya. penontonnya yang datang tiap hari rata-rata 10-15 orang saja. Harga tiketnya Rp 2.500. “Abot Mas (Berat, Mas),” kata Sakia. Menurut waria ini, pada malam Minggu kondisinya agak mendingan. Sekitar 100-150 orang memadati bangku penonton. Karena itu, tarif pun naik menjadi Rp 7.500. Kebanyakan mereka adalah penonton fanatik, yang rela naik angkutan umum. Tak heran jika kemudian tubuh mereka berkeringat setiba di ruang pertunjukkan. Aroma tubuh mereka berbaur dengan bau selokan di pinggir panggung. Sakia menuturkan, kelompoknya jelas tak bisa mengandalkan biaya hidup dari pertunjukkan tersebut. Banyak anggota kelompoknya yang harus nyambi kerja lain. Mulai tukang parkir, tukang las, tukang tambal ban dan lain-lain. Hidup segan, matipun tak mau, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan kesenian ludruk saat ini.
Seiring dengan berkembangnya industri media cetak dan televisi di Indonesia sejak 1990-an, Membuat orang-orang lebih menikmati menonton televisi, daripada menonton ludruk. Di sinilah tantangan bagi para praktisi ludruk untuk banyak melakukan inovasi, menyesuaikan manajemennya dengan tuntutan zaman. Read the rest of this entry ?

h1

MENCARI SEBUAH IDENTITAS DALAM BUDAYA POP

December 4, 2007

metropole083.jpgIdentitas dapat dilihat sebagai sebuah medan perang, tempat pertempuran, daerah konflik atau medan dialog, identitas tersebut dibangun, diperebutkan, dipertentangkan, diubah, dipengaruhi, dilupakan atau ditinggalkan di dalam sebuah wacana. Identitas dalam sebuah masyarakat diingat, digali, dikumpulkan, diceritakan kembali atau malah dikubur, dilupakan dan dihapus dari pikiran kolektif. Identitas ditafsirkan sebagai sebuah budaya milik bersama, dimiliki secara bersama-sama oleh orang yang memiliki sejarah dan asal-usul yang sama. Identitas menjadi rantai perubahan secara terus menerus, sebagai bentuk pelestarian masa lalu atau warisan budaya(primordial), dan sebagai bentuk transformasi dan perubahan masa depan(kreativitas perubahan budaya). Identitas digunakan untuk menjelaskan berbagai cara kita diposisikan dan sekaligus memposisikan diri kita secara aktif dalam narasi sejarah. Read the rest of this entry ?