ALUN-ALUN THAMRIN dan RINGIN BUDHO
Kali ini kita mengunjungi salah satu sudut kota Pare yg cukup terkenal bagi warga Pare dan sekitarnya…yak betul Alun-alun Thamrin.
Sebetulnya yang disebut Alun-alun Thamrin oleh warga Pare adalah taman kota yang berlokasi di bekas lapangan Persendo (nah apa itu Persendo, penulis sendiri juga belum menemukan narasumber pastinya).
Taman kota ini sendiri dibangun untuk mengenang pencapaian Pare yang pernah mendapat Piala Adipura untuk kategori kota kecil. Ya, piala yang dulu pernah diberikan kepada kota-kota yg berpredikat “Terbersih” itu pernah didapat Pare sebanyak 2 kali (tepatnya kapan penulis lupa). Karena Pare tidak mempunyai alun-alun sebagaimana kota lainnya (justru alun-alun Pare jaman Belanda dulunya adalah Read the rest of this entry ?



Brasil di pertengahan tahun 1984, setelah hampir 20 tahun negara itu dipimpin oleh diktator militer. Musik rock masih dianggap tabu oleh sebagian orang-orang yang duduk di pemerintahan. Apalagi musik yang dimainkan jenis heavy metal dan punk, sangat-sangat tidak bisa diterima oleh pemerintahan Brasil saat itu. Memainkan musik heavy metal dan punk sudah dianggap tindakan subversif. Dari kawasan kumuh Belo Horizonte, kota terbesar ketiga di Brazil, Max Cavalera(vokal/guitar), Igor Cavalera (drum) , Paulo jr. (bass) dan Jairo t (lead guitar), mencoba mendobrak aturan-aturan primitif itu. Dengan peralatan seadanya mereka memainkan lagu-lagunya Iron Maiden, Metallica, dan Slayer. Kebetulan Max cuma punya tiga album dari Iron Maiden, Metallica, dan Slayer. Itu pun dibelinya saat ia berkunjung ke Sao Paulo.