PERISTIWA 10 NOVEMBER DALAM LUKISAN

Posted: October 31, 2008 by mbah admin in Gaya hidup
Tags: , , ,

 

Sekitar tahun 1997, Saat itu saya sedang berburu buku atau novel lama sastrawan Indonesia. Pada saat itu saya sedang melengkapi koleksi karya sastrawan Indonesia, antara lain dari Umar Kayam, Kuntowijoyo, Danarto, Y B. Mangunwijoyo,  Gunawan Muhamad dan Pramoedya Ananta Toer. Ketika saya sedang mencari buku di salah satu toko buku murah di Yogyakarta. Tanpa sengaja saya melihat buku dengan sampul lukisan orang-orang yang bersemangat untuk berperang. Buku itu berjudul “PERISTIWA 10 NOV. 1945 DALAM LUKISAN”. Buku itu diterbitkan tahun 1988, di buku itu tertulis pemrakarsa buku ini adalah Ibu H. Lukitaningsih Irsan Radjamin Soepandhan. Dengan pendukung utama Prof. DR. H. Roeslan Abdulgani. Yang memberi sambutan di buku ini ada Menteri Sosial RI saat itu, Prof. Dr. Haryati Soebadio, Menteri Penerangan Harmoko, Gubernur Jawa Timur Soelarso, dan Walikota Surabaya Dokter H. Poernomo Kasidi.

 

Yang membuat lukisan pada buku ini adalah pelukis Sochieb. Menurut biodata dibuku ini, Sochieb dilahirkan di Surabaya pada tahun 1931, mulai melukis dan belajar melukis pada pelukis Surabaya Indra Hadikusuma. Lukisan karya Soechib banyak dimiliki oleh para Bapak-bapak bekas pejuang 45, pejabat-pejabat pemerintah di Surabaya, Malang dan Jakarta. 

 

Untuk mengenang para pejuang dan memperingati Hari Pahlawan, saya mengetik ulang naskah yang ada dibuku ini untuk teman-teman semuanya. Semoga bisa memberikan manfaat dan dapat mengambil hikmahnya. Ada petikan kalimat dari Prof. DR. H. Roeslan Abdulgani di buku ini yang menarik kita simak, Ada kata-kata bersayap dalam bahasa Inggris yang berbunyi: “seeing is believing”. Melihat adalah percaya, maksudnya orang akan percaya ababila sudah melihat. Karena itu saya anjurkan kepada generasi muda sekarang, lihat dan perhatikan secermat mungkin lukisan-lukisan itu. Dan percayalah bahwa itu adalah realita jiwa kota Surabaya dulu”.

 

 

PERISTIWA 10 NOVEMBER DALAM LUKISAN

 

INSIDEN BENDERA DI HOTEL YAMATO TUNJUNGAN

Rabu Wage, 19 September 1945 pagi hari bendera Belanda Rood-Wit-en Blauw (Merah Putih Biru) pada tiang sebelah kanan hotel, kembali di kibarkan sebagai lambing tegaknya kembali kolonialisme Belanda di Surabaya. Dengan sikap sombong, congkak dan angkuh, karena mereka merasa menang dalam perang. Orang-orang anggota Komite Kelompok Sosial dengan mengatasnamakan Red Cross (Palang Merah) bersikap tidak menghormati orang-orang Indonesia. Berkibarnya bendera Belanda, Merah Putih Biru dan tingkah laku orang Belanda itu segera menarik perhatian rakyat dan pemuda di sekitarnya.

Hati rakyat Surabaya jadi panas. Mereka tidak mau melihat berkibarnya bendera asing di negrinya yang baru merdeka. Kerumunan para pemuda dan rakyat dating dari segala penjuru. Mereka menunjuk-nunjuk bendera di atas sambil berteriak agar lambing penjajah itu segera diturunkan. Namun orang Belanda yang berada disekitar hotel memperlihatkan sikap congkaknya. Bertolak pinggang, memandangi massa pemuda dengan penuh penghinaan. Rakyat yang datang berkerumun dengan membawa senjata bamboo runcing (takeyari), golok, kelewang dan sebagainya, dipandangnya dengan sikap bermusuhan.

 

Jalan Tunjungan di sekitar hotel telah penuh dikerumuni massa pemuda dan rakyat, dan dalam waktu sekejap pada siangnya makin ramai. Beberapa orang pemuda dengan menggunakan bersepeda berteriak-teriak sepanjang jalan, mengelilingi Embong Malang, Blauran, Praban dan kembali Tunjungan dan terus ke selatan. Meminta agar massa rakyat beramai-ramai menurunkan bendera Belanda di atas hotel Yamato/Orange di Tunjungan. Massa makin banyak di muka hotel dan berteriak-teriak agar bendera Belanda segera diturunkan. Dengan mengendarai mobil hitam Residen Sudirman datang pula ke tempat itu dan secara tegas Residen Sudirman meminta kepada orang yang mengaku sebagai “Perwakilan Sekutu” supaya segera menurunkan bendera itu. Residen Sudirman menyatakan bahwa ia pejabat Pemerintah Republik Indonesia, dan melarang pengibaran bendera asing di Surabaya.

Permintaan tersebut tidak digubris oleh orang-orang yang berada disitu. Bahkan seorang pemuda Belanda mengancam dengan menodongkan revolvernya ke arah Residen Sudirman. Melihat gelagat kekerasan demikian, seorang pemuda yang berada di dekat peristiwa itu, bergerak cepat, menendang revolver dengan tendangan silat. Dan mulailah pertempuran massal.  Melihat keadaan hiruk pikuk itu Residen Sudirman kembali ke kantornya untuk mengatur situasi selanjutnya.

 

 

Beberapa orang Opsir sekutu berdiri dengan sombongnya, di tingkat atas hotel, di bawah kibaran bendera Belanda. tetapi rakyat mendesak ke arah itu, sehingga mereka mencari tempat perlindungan. Melarikan diri ke Gedung Red Cross yang terletak di seberang jalan Tunjungan dimuka hotel Yamato (orange). Kaca etalase dipecahkan, rakyat mengamuk bagaikan banteng yang terluka. Banyak pula pemuda yang berusaha naik ke atas tempat bendera Belanda berkibar, dengan menggunakan tangga atau dengan jalan panggul-memanggul hingga mencapai puncaj menara.

Sementara itu beberapa pemuda menerobos masuk ruangan hotel, mencari jalan lewat dalam, menuju tempat bendera. Seorang berhasil memanjat atap hotel tetapi tiba-tiba terpelanting, karena dipukul seorang indo Belanda dari belakang. Seorang jatuh, tetapi yang lainnya segera menggantikan. Penggtinya tidak kesulitan lagi untuk mencapai puncak tempat bendera tiga warna berkibar, akhirnya beberapa orang berhasil nail ke atas hotel. dengan cekatan pemuda itu menurunkan bendera dari tiangnya, setelah sampai dibawah bagian birunya disobek dengan digigit, dan dibuang ke bawah. Dengan sorak sorai massa yang menyambut keberhasilan tersebut bendera yang tinggal merah dan putih dengan ukuran tidak seimbang kembali dikibarkan di puncak tiang hotel Yamato (Orange). Massa Rakyat dengan penuh semangat memekikkan “Merdeka!” gegap gempita.

Dan massa rakyat belum juga mau bubar. Kemudian Bung Tomo meloncat ke atas atap kantornya (Antara) yang letaknya di Jalan Tunjungan 100 (pojok) jalan Embong Malang yang letaknya tak jauh dari hotel tersebut diajaknya rakyat untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah puas menumpahkan perasaan dalam irama lagu kebangsaan itu, barulah dengan lega hati rakyat meninggalkan jalan Tunjungan. Truk penuh rakyat yang berjuang, dengan mengangkat senjata mereka di atas kepala sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan tidak henti-hentinya. Serdadu Jepang yang berjaga diluar hotel tidak melibatkan diri dalam keributan itu. mereka tidak perlu mempertahankan bendera-bendera yang tidak ada hubungan dengan tugasnya. Dalam insiden bedera tersebut pihak pemuda Indonesia jatuh korban 4 (empat) orang, yaitu Sidik, Mulyadi, Hariono dan Mulyono. sedang Mr. Ploegman (Belanda) tewas akibat ditusuk dengan senjata tajam.

 

 

 

 

Kini terbukti, bahwa pengibaran bendera asing di Surabaya saat itu, akan merangsang kebencian rakyat dan mengundang mereka untuk bertindak dan melakukan perlawanan, mengobarkan semangat dan memperkokoh persatuan pemuda berbagai suku bangsa Indonesia di Surabaya, semakin menyadari arti kekuatan rakyat, untuk mempertahankan kemerdekaan.

 

USAHA BELANDA MENYUSUP DARI LAUT. SURABAYA BERJAGA, SEBELUM ATAU SELAGI PENDARATAN PASUKAN SEKUTU.

 

Demi kepentingan warga negaranya yang masih berada di Surabaya dan ambisi pemerintah Belanda untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia pada umumnya, Surabaya pada khususnya, Belanda terus mendesak pihak sekutu agar secepatnya mengirimkan pasukannya ke Surabaya. Tumpuan harapan pada bantuan orang-orang Jepang yang semula kelihatan lancar, kini tidak lagi dapat diandalkan. Karena pasukan Jepang semuanya telah bertekuk lutut dan semua senjata berada di tangan pejuang-pejuang Indonesia.

Di bawah komando Brigadir A.W.S. Mallaby, pasukan Brigade 49 mendapat tugas mendarat di Surabaya. Tanpa mempelajari situasi Surabaya, maka informasi mengenai kota pelabuhan di Jawa Timur itu diperoleh apa adanya, terutama dari sumber orang-orang Belanda itu sendiri. Yang mengatakan bangsa Indonesia sebagai “het zachtste volk ten aarde” (bangsa yang paling empuk di bumi), dipercaya saja oleh pasukan Mallaby. Ditambah laporan sekutu sendiri sangat menyesatkan, dengan mengatakan “Penduduk di Jawa tidak perduli terhadap gerakan politik, dan kaum nasionalis kacau dalam perjuangannya dan organisasinya buruk. kalau pasukan sudah sampai dan pengamanan sudah dilakukan, maka tugas lainnya mudah”. Kekawatiran Belanda cukup beralasan. Semakin lama pemuda Indonesia memegang senjata akan semakin berkesempatan mereka belajar menggunakan senjata yang baru diperolehnya. Semakin mahir mereka menggunakan senjata itu akan sukar untuk mengatasinya. Dan pada bayangan Belanda, apabila terlalu lama pasukan sekutu tidak berda di Surabaya keadaan orang-orang Belanda di Surabaya semakin lama hidup dalam serba ketakutan dalam intimidasi, semakin lemah fisik, morilnya dan semakin jauhlah mission untuk mengembalikan Pax Netherlandica dibekas jajahannya.

 

 

 

 

Pada tanggal 15 Oktober 1945, diperairan Kedungcowek terjadi usaha pendaratn sekoci-sekoci Belanda yang diturunkan dari dua buah kapal. akan tetapi dengan cepat hal ini diketahui dan segera dihalau oleh orang-orang Indonesia. Kekuatan armada Indonesia diujung Surabaya setelah memperolehnya secara utuh dari jepang terdiri atas: sebuah kapal buru selam kuno S.115, sebuah buru selam jenis Hayabusha, sebuah kapal pemasang ranjau “Merbabu” tiga buah kapal tunda yang dipersenjatai 12,7 masing-masing “Beatrix, Irene, Prins Bernhard” dan sebuah kapal selam ex U Boot Jerman yang dibiarkan kosong karena kemampuan pasukan laut Indonesia waktu itu belum sampai sejauh itu. Juga masih terdapat berpuluh jenis sekoci Jibaku (kapal kecil semacam torpedo) milik Jepang yang dikemudikan oleh satu orang, digunakan untuk senjata menabrakkan diri pada kapal besar musuh sehingga pemgemudinya hancur bersama kapal musuh.

Pagi, 24 Oktober pukul 11.00 di udara Surabaya tampak melayang-layang pesawat terbang, yang ternyata merupakan pengawal dari iring-iringan sebuah konvoi terdiri dari sekitar 6 Destroyer dan kapal-kapal pendaratan LST serta 60 buah kapal-kapal biasa. Di antaranya ada yang langsung mendarat ditambatan Rotterdamweg (Zamrut) Tanjung Perak, kapal perang yang lain berderet dari muka gedung Armada Modderlust Ujung sampai Ujung Perak. Beberapa perwira TKR Laut segera menuju ke arah kapal perang sekutu (pukul 15.00) dengan menggunakan kapal motor cepat. namun mereka hanya saling berpandangan saja, tanpa terjadi kontak lainnya.

 

 

 

 

Semua peristiwa itu dilaporkan lewat telepon ke pucuk pimpinan TKR laut di Hotel Ngemplak, tetapi tidak seorang tokoh pun yang datang ke Modderlust. Para wartawan ikut menyaksikan pendaratan pasukan Inggris lewat seberang muara sungai Kalimas. Kemudian 2 orang wartawan pergi menuju Modderlust, mengendarai mobil dengan tanda PRESS di kaca depannya. lewat jalan Oedjoengweg (jalan Patiunus) kedua orang wartawan tersebut (Wiwik Hidayat dan Amin Lubis) melihat daerah itu hanya dijaga oleh para pemuda bersenjata asal saja yang diragukan kemahirannya bertempur. Sesudah itu keduanya berputar melalui jembatan Ferwerda (Petekan), menyeberang ke barat dan menuju ke Rotterdanweg melalui Nieuwe Kalimas (Kalimas Baru) untuk melihat pendaratan pasukan Inggris dan prajurit India yang kemudian dikenal istilah Gurkha. Pasukan asing itu siap menembak ketika didekati oleh mobil bertanda PRESS itu. Kedua wartawan itu hanya lewat saja, lalu meneruskan perjalanan kembali ke kota. Sepanjang jalan sekitar pelabuhan tampak dijaga oleh para pemuda bersenjata, tapi pada waktu itu mereka belum menyadari adanya pendaratan pasukan inggris di dermaga. Kemudian keduanya langsung ke markas TKR Jawa Timur di gedung HVA (bekas kantor dagang Belanda Handels Vereniging Amsterdam), untuk melaporkan apa yang dilihat di Tanjung Perak. Seketika itu juga seorang tokoh revolusioner drg. Moestopo secara demonstratif dengan penjagaan ketat, dan persenjataan lebih dari cukup yang dibawanya sendiri, tidak ketinggalan ia menggenggam sebuah pedang samurai, berkeliling kota dengan mobil terbuka. Ia berteriak-teriak sepanjang jalan memperingatkan agar masyarakat waspada.

“Siap! Siap!” gema kumandang teriakkannya sampai segenap pelosok Kota Surabaya, “nanti malam saya akan menyampaikan pidato radio yang amat penting. Harap didengarkan dengan sungguh-sungguh”. Sore hari, 24 Oktober 1945 ada utusan sekutu dari seberang Modderlust mau berunding dengan mereka yang menempati Ujung. Utusan sekutu itu dipimpin oleh Kolonel Carwood bersama beberapa Perwira dan Tamtama. Mereka ditemui oleh para perwira TKR Laut. dalam perundingan itu sebenarnya arek-arek Surabaya sudah mencurigai maksud sekutu yang sebenarnya. Sebab pihak sekutu dalam perundingan itu minta:

1. Bendera Merah Putih yang ada di Modderlust di ganti dengan bendera Inggris.  2. Daerah sepanjang pantai selebar 200meter harus dikosongkan guna pendaratan pasukan sekutu. Permintaan sekutu itu ditolak dengan jawaban: 1. Sang Merah Putih hanya dapat diturunkan jika ada perintah dari Pemerintah Rebuplik Indonesia.  2. Tidak dapat mengosongkan daerah pantai, karena diperlukan sendiri.

 

 

 

 

Penolakan tersebut di atas, menimbulkan amarah utusan sekutu, lalu mulai melancarkan ancaman-ancaman: Bila dalam 5 menit bendera itu tidak diturunkan, maka akan dikeluarkan perintah penembakan meriam dari kapal. Seorang pemuda, Kholik namanya segera membuka pakaiannya, dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja. tangan mengenggam sebilah pedang samurai, langsung meloncat ke samping tiang bendera. Ia berteriak, “jangan coba menjamah Sang Dwiwarna, selama hayatku masih dikandang badan”. Setelah batas waktu lima menit habis, beberapa buah kapal di seberang Modderlust tampak jelas mengarahkan mulut meriamnya. Siap Menembak sesuai dengan ancaman. melihat persiapan penembakan itu, semua anggota TKR Laut mendapat perintah untuk membuka seragam putihnya, menirukan Kholik. Bersama-sama memagari tiang bendera dengan membawa senjata apa saja termasuk besi tua yang diperoleh di tempat itu. Melihat sikap tegas para pejuang, delegasi sekutu mengundurkan diri dan meninggalkan Modderlust.

“Nica,…! Nica,…! jangan mendarat,…! Kamu tahu aturan,…! Kamu tahu aturan, Inggris! Kamu Tahu sekolah tinggi,…! Kamu tahu aturan, jangan mendarat! jika kamu nekat, rakyat akan melawan. Darah akan mengalir, kamu akan terusir! Kami pantang menyerah!”. Pidato itu disiarkan berulang-ulang, dan mengudara hampir sepanjang senja. Pidato itu didengarkan oleh masyarakat yang bergerombol di tempat-tempat radio umum dengan perasaan tegang. Masyrakat jadi tahu bahwa pasukan Inggris sudah berada di Tanjung Perak dan mau mendarat. Tentu saja pendaratan itu sama sekali tidak dikehendaki oleh pimpinanm TKR yang berarti juga tidak dikehendaki orang Indonesia di Surabaya. Masyarakat membayangkan bahwa pasukan Inggris sangat perkasa dan didalamnya ada Pasukan Belanda atau Nica. Namun semangat perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan tetap membara didada seluruh arek-arek Surabaya.

 

 

 

 

PASUKAN INGGRIS MENDUDUKI TEMPAT-TEMPAT STRATEGIS DALAM KOTA SURABAYA, BAIK DENGAN ATAU TANPA PERUNDINGAN.

 

Brigade 49 dengan kekuatan sebanyak 6.000 orang dibawah pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby, Kamis 25 Oktober 1945 melakukan pendaratan pasukan Inggris besar-besaran. Brigade 49 terdiri dari dua batalyon Mahrattas dan satu batalyon Rajputs. Batalyon Mahratts orang-orangnya diambil dari sekitar Bombay, sedang batalyon Rajputs diambil dari negara bagian Rajputana. Brigade 49 ini sebenarnya tidak ada orang dari suku Gurkha, tetapi sudah jamak dalam medan pertempuran Surabaya anak buah Mallaby yang berasal dari India disebut Gurkha. Pada hari itu juga Gubernur Suryo untuk pertama kalinya sejak memegang jabatan mengadakan rapat kerja dengan para residen se Jawa Timur. Rencana rapat tunggal, membahas bagaimanakah caranya kita dapt menegakkan keselamatan wilayah Republik Indonesia. Sementara itu Brigadir Mallaby menugaskan Kapten Mc.Donald dan pembantu Letnan Gordon Smith, untuk menyampaikan undangan lisan kepada Gubernur Suryo dan seorang wakil BKR (Badan Keamanan Rakyat) untuk diajak berunding di atas kapal perang mereka. Undangan ini tidak dapat dipenuhi karena adanya rapat kerja Gubernur tadi. Di samping itu apa yang akan dirundingkan di atas kapal perang belum diketahui. Namun, kedua orang utusan Mallaby tetap mendesak, dan Gubernur Suryo bukan seorang pribadi yang mudah didesak. Dengan sikap tidak sopan, keduanya berdiri dari tempat duduknya dan tanpa pamit meninggalkan kamar tempat mereka menunggu (ruang kerja Gubernur). Untung saja Gubernur Suryo dan Residen Sudirman yang mengetahui hal itu dapat menguasai diri. Gubernur Suryo pun berkata, “kita tidak mau menuruti kemauan mereka, apa saja. kita tidak usah takut. Kita pasti menang mengahdapi mereka. Sebab mereka yang lebih dulu bersikap tidak sopan dan kurang ajar,..!”.

 

 

Setelah berkali-kali kedua belah pihak saling menawarkan tempat untuk mengadakan perundingan, akhirnya perundingan antara komandan pasukan sekutu dengan pemerintah setempat pertemuan ditetapkan di jalan Kayun, bekas gudang Konsulat Inggris (sekarang gedung IKIP). Tetapi begitu peundingan selesai, pasukan Inggris telah mulai mendaratkan pasukannya di Ujung dan Tanjung Perak. Pendaratan itu tidak sesuai dan bukan hasil perundingan. Dengan atau tanpa berunding Inggris terus saja mendaratkan pasukannya seperti yang telah mereka rencanakan. Pendaratan pasukan Inggris yang dilakukan tanpa berunding dengan Pemerintah Republik Indonesia di Jawa Timur itu telah mengundang reaksi Gubernur Suryo. Sementara itu Presiden Sukarno mengeluarkan perintah yang dikawatkan menteri penerangan Mr. Amir Syarifuddin, yakni bahwa Pemerintah Rebuplik Indonesia di Surabaya tidak boleh menghalangi atau menggangu kedatangan sekutu dan menyelesaikan tiap masalah dengan jalan damai. Maka, Gubernur Suryo sekali lagi mengirimkan suatu delegasi ke tempat pasukan sekutu yang mendarat di Tanjung Perak. Sepanjang jalan mereka ditahan oleh rakyat yang bersenjata, memekikan salam, “Merdeka”. Mereka menahan delegasi bukan untuk apa-apa melainkan memberitahukan bahwa pasukan Inggris mendarat di Tanjung Perak. Delegasi pun memberitahukan maksud serta tujuan mereka dengan diiringi pekik, “Merdeka” delegasi meneruskan perjalanan. Pada sebuah gedung kantor pelabuhan akhirnya para utusan dapat berhubungan dengan wakil pasukan Inggris, yang terdiri dari Kolonel Pugh, wakil komandan Brigade 49 dan Kapten Shaw, perwira intelligence. Waktu utusan Gubernur menanyakan maksud mereka, sementara itu pula serdadu-serdadu Gurkha yang bersenjata sudah berjalan kaki ke arah para utusan, wakil pasukan Inggris tadi menjawab, “we are occupying buildings in the town” (kami akan menduduki gedung-gedung didalam kota). Para delegasi minta agar mereka tinggal saja dulu di daerah pelabuhan, dan dengan begitu Pemerintah Republik Indonesia dapat mengatur tempat penginapan mereka. Kolonel Plugh menjawab bahwa mereka tidak akan bikin repot, “my troops will do no harm, lodging?well, they will sleep on streets, or in front of houses and buildings”.

 

 

 

 

 

 

Para utusan Gubernur mendapat kesan, bahwa pasukan Inggris datang dan mendarat di Surabaya dengan suatu rencana tertentu. Oleh karena itu perundingan apapun tidak akan menghasilkan apa-apa. Maka para utusan yang di antaranya adalah Ruslan Abdulgani, kembali melaporkan semuanya kepada Gubernur dan Residen Surabaya.

Keesokan harinya, Jum’at 26 Oktober 1945 antara jam 09.00-12.30, kembali dilangsungkan pertemuan antara Pemerintah RI dengan pihak sekutu langsung dipimpin Brigadir A.W.S. Mallaby disertai stafnya. Dalam perundingan tersebut di sepakati pasukan sekutu secara berkelompok dapat mengunakan beberapa bangunan didalam kota. Antara lain: Gedung Roeivereniging (Perkumpulan Olah Raga dayung Belanda) di Kayun sebagai Markas Brigade dengan satu kompi pengawal. Untuk para perwiranya ditempatkan di Gedung Internatio, satu kompi di gedung HBS (jalan Wijayakusuma), satu batalyon di sepanjang kompleks Tanjung Perak samapai Westminsterklok. di Ujung dari bekas Marine Establismen hingga Jembatan Ferwerda (Petekan) dan Citadelweg (Bentengmiring) ditempatkan satu batalyon. Sekalipun banyak terjadi ketegangan perundingan itu menghasilkan kesepakatan sebagai berikut:

1. Sekutu berjanji bahwa di antara tentaranya yang datang di Surabaya tidak terdapat Angkatan Laut atau Angkatan darat Belanda.

2. Untuk menjamin ketentraman dan keadilan, telah disetujui oleh kedua belah pihak untuk bekerjasama antara pihak Indonesia dengan tentara sekutu.

3. Agar kerjasama dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya Maka segera akan diselenggarakan suatu badan yang disebut Contact Bureau.

4. yang akan dilucuti senjatanya hanyalah orang Jepang saja, sedang pengawasan dipegang oleh tentara sekutu dan selanjutnya tentara jepang itu akan dipindahkan ke luar Jawa.

 

 

Hasil kesepakatan dalam perundingan tanggal 26 Oktober 1945 di Kayun itu menimbulkan harapan bahwa kerjasama dengan pasukan sekutu dapat dilaksanakan. Siang itu, beberapa jam seusai perundingan, pasuka Inggris melepaskan tawanan Belanda dari Kamp tawanan di kompleks lapangan bola Thor Wonokitri. Pembebasan tawanan ini terjadi 2 kali. Usaha kedua kalinya untuk membebaskan tawanan Belanda mengalami kegagalan, karena pasukan sekutu sebanyak dua peleton itu harus berhadapan dengan pasukan pemuda API dibawah pimpinan BUstami, sehingga terjadi bentrok senjata. Dalam bentrok senjata itu beberapa orang Inggris tewas. Ternyata pasukan Inggris tidak hanya menduduki tempat yang telah dicantumkan dalam perundingan. mereka juga menduduki gedung-gedung lain yang letaknya strategis, seperti: Kantor Pos, BPM di Societeitstraat (jl. Veteran), Pusat Kereta Api, Pusat Otomobil, ANIEM Gemblongan, Hotel Brantas, Gedung radio Surabaya, dan lain-lain. Hal ini sudah jelas merupakan pelanggaran dari persetujuan perundingan. Gedung-gedung tadi diduduki dengan keyakinan penuh bahwa mereka akan segera menguasai Surabaya. Gedung-gedung yang mereka duduki itu disamping strategis, biasanya bangunan gedungnya kuat, berdinding tebal, tepat sekali untuk dijadikan markas atau kubu pertahanan. Pendudukan itu dilakukan dengan paksa, kalau perlu mengusir orang yang berada atau menempati gedung-gedung itu. Penjara Kalisosok diambil alih dengan kekerasan, merebut penjara dengan paksa, merusak, bahkan menembak mati pada orang-orang yang mempertahankan penjara itu. Orang-orang Inggris itu sudah benar-benar mengabaikan hasil perundingan siang harinya. Dengan direbutnya penjara Kalisosok, Kapten Huiyer dan kawan-kawannya serta orang-orang RAPWI daat dibebaskan. Kapten Huiyer orang yang diandalkan mampu mengurusi kepentingan warga negaranya, ternyata gagal dalam usahanya. justru karena kecerobohannya ikut campur dalam memindahtangankan kekuasaan dari tangan Jepang kepada Pemerintah Belanda, dengan menggunakan surat kepercayaan sekutu. Perbuatan ini sangat dicela oleh Komando sekutu. Dengan nota keras Komando Sekutu ditujukan kepada pihak Belanda, kecerobohan Huiyer juga memperingatkan kepada pihak Indonesia untuk waspada terhadap usaha pemerintah Belanda yang berambisis untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia dengan jalan membonceng pihak sekutu. Informasi Kapten Huiyer tidak diindahkan oleh Brigadir A.W.S. Mallaby yang berpengalaman bertempur di Birma. Brigadir nii mendapat perintah dari atasannya dan akan melangkah menggerakkan pasukannya seperti apa yang telah ditugaskan kepadanya. Sedangkan Kapten Huiyer, karena tingkah lakunya di Surabaya masa lalu, namanya sangat cemar dikalangan pimpinan pasukan sekutu di Asia Tenggara. Kampten Huiyer segera dikirimkan kembali ke Jakarta.

 

 

 

 

Sabtu pagi, 27 Oktober 1945 keadaan kota Surabaya siaga dan tegang. Rakyat di kampung-kampung mengadakan penjagaan, mereka telah tahu bahwa pasukan Inggris dan Gurkha telah menyusup, menduduki tempat-tempat strategis di dalam kota. Kemarahan mereka terkekang. Namun sejauh itu rakyat dan anggota-anggota badan perjuangan resmi tidak melakukan pencegahan apabila perlawanan yang berarti. Mereka hanya mengamati dan bersiap siaga untuk melakukan serangan, kapan saja jika tiba saatnya untuk bergerak bila diperlukan. Pada hari itu juga Kolonel Pugh, wakil komandan Brigade 49 Inggris memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyita setiap kendaraan yang lewat. telah menimbulkan amarah rakyat. Badan Perjuangan, BKR dan Polisi menganggap tindakan Inggris ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mobil-mobil milik Republik Indonesia yang berjalan sendiri distop dan dirampas dengan tiada isyarat. Beberapa orang pemuda bersenjata dilucuti senjatanya. Persitiwa tersebut terutama terjadi di sekitar kamp-kamp orang Belanda. Rakyat menduga bahwa aksi tersebut dijalankan oleh orang-orang Belanda yang berpakaian tentara Inggris atau paling tidak Belandalah yang mengemudikan dibelakang tirai.

 

 

 

 

INSIDEN-INSIDEN PENDUDUKAN TENTARA SEKUTU DI SURABAYA PRA 10 NOPEMBER 1945

 

27 Oktober 1945, tepatnya pukul 14.00 WIB, merupakan bentrokan senjata pertama, antara pasukan Inggris dan Gurkha terjadi dengan pemuda PRISAI (PRI Sulawesi), yang baru pulang dari Rapat Kilat. Dimana kendaraan pemuda PRISAI menyenggol drum rintangan jalan di muka Rumah Sakit Darmo. Pihak pasukan sekutu yang sedang mengurusi kaum interniran di Rumah Sakit Darmo, mau menghentikan kendaraan pemuda PRISAI. Mengingat pengalaman serta kenyataan hari itu, bahwa setiap penghentian kendaraan Republik Indonesia oleh pihak Inggris, berakhir dengan perampasan kendaraan dan pelucutan senjata. Maka sopir PRISAI tidak mau menghentikan kendaraannya. Karena kendaraan itu tidak mau berhenti, terdengar perintah menembak dari pihak Inggris dan kendaraan pemuda PRISAI ditembaki. Kejadian siang itu langsung mendapat jawaban dari pihak pemuda. Tidak seperti biasanya yang lalu, apabila mendapat tembakan-tembakan demikian para pemuda tidak melawan. Tetapi setelah pulang dari rapat kilat dengan badan perjuangan lainnya seperti, PRI utara, PRIAL, siang itu memutuskan untuk melawan Inggris. Tembakan dari pasukan Inggris langsung dijawab dengan tembakan pula. Pemuda PRISAI tidak ingin membiarkan pasukan Inggris berbuat sewenang-wenang. Tembakan balasan pemuda PRISAI ini segera dibantu pemuda di Darmo. Bentrok senjata yang terjadi di Darmo ini dengan cepat menjalar ke Kayun, Simpang, Ketebang, Jembatan Merah sampai Tanjung Perak dan Bentengmiring. Semua truk Inggris yang sedang mengadakan distribusi bahan makanan, ganti dicegati dan dirampas oleh pemuda. Tentu saja pasukan Inggris itu memberikan perlawanan, dan terjadilah tembak menembak. Markas Komando Divisi TKR Karesidenan, pukul 18.00 tepat mengeluarkan perintah untuk melawan pasukan Inggris. Komando itu segera disiarkan lewar radio Surabaya dan radio Pemberontakan Bung Tomo. Dengan segala spontanitasnya para pejuang mempersiapkan diri untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Dari pucuk pimpinan Laskar, Badan Perjuangan, Kesatuan Pelajar, Pasukan Palang Merah sampai Dapur Umum. Surabaya ditelan kesepian malam.

 

 

 

Kawan dan lawan bersiap siaga di tempatnya masing-masing, menantikan apa saja yang akan terjadi selanjutnya. Persoalannya perintah komandan TKR berlaku mulai pukul 04.00 tanggal 24 Oktober 1945. Minggu pagi tanggal 28 Oktober 1945, kota Surabaya sepi dan tegang. Berbeda dengan hari-hari biasa, karena para pemuda, anggota-anggota badan perjuangan, Polisi, dan TKR disamping segenap penduduk bertekad bulat, bersatu dalam mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia di bumi Indonesia. “Merdeka atau Mati”, semangat perjuangan dan luapan jiwa yang tidak mau dijajah menenggelamkan instruksi dari Jakarta untuk tidak melakukan perlawanan terhadap tentara sekutu tidak terpenuhi. Beduk subuh menggema, pagi masih buta.

Pasukan TKR Sidoarjo dan Mojokerto telah berada di selatan kota. Batalyon Cipto dari Sidoarjo mempersiapkan pertahanan di sebelah kebun binatang, Darmo Boulevard dan di Komplek BPM. Bantuan kompi mortir ditempatkan di belakang Pasar Wonokromo. Ketika hari mulai terang di dalam kota, pertempuran mulai meletus. Di sana sini serdadu pendudukan Gurkha dengan truk-truknya berlari menggila dari arah utara, mengabaikan rintangan serta kelompok penjagaan BKR yang dilewatinya. Seolah-olah ingin menunjukkan keperkasaannya lewat suara mesin yang menderu-deru dengan kecepatan tinggi.

Para pejuang yang telah memiliki senjata api ditangannya sudah tak sabar lagi untuk mencoba keampuhan senjata yang dimilikinya. Keinginan itu ditahannya, karena atasannya melarang dan mereka ingin bisa mematuhi kehendak Pemerintah Pusat di Jakarta. Sementara komando untuk menyerang pasukan Inggris telah diturunkan  kemaren sore yang belum mereka ketahui. Beberapa pejuang sudah tidak tahan lagi mengekang kemarahannya melihat keangkuhan serdadu pendudukan Inggris dan Gurkha itu. Senjata api dipetik picunya dengan sasaran musuh manusia yang angkuh dan sombong yang menjejakkan kakinya di Surabaya. Secuil bumi tanah air kita yang merdeka…!

 

 

 

 

Inggris pun membalas dengan tembakan. Kontak Senjata semakin ramai. Orang-orang kampung yang berdekatan, turut ambil bagian. Jalan-jalan raya mereka penuhi rintangan-rintangan. Apa saja digunakan untuk rintangan, dingklik, tong, karung pasir, meja kursi buruk, tangga, dsb. Kalau truk-truk Inggris masih juga bisa lewat, rintangan pun ditambah lagi. Lemari, perabot-perabot yang lain oleh kelompok-kelompok pemuda bersenjata. Truk-truk Gurkha yang akan lewat untuk mengangkuti para tawanan atau pasukan Inggris jadi terhambat. Mereka pun menembaki orang-orang yang menghadangnya. Rakyat dari segala penjuru dengan cepat berkumpul dan mengeroyok pasukan Inggris dengan semangat yang mengebu-gebu tiap kali terdengar kata “siaaap! siaaap!. Meskipun korban jatuh dipihak kita, hal itu tidak mengurangi semangat perjuangan untuk menyerang pasukan Inggris yang bersenjata lengkap dan modern. Pembentukan pos-pos kecil yang tersebar di seluruh kota, merupakan tindakan Malllaby yang gegabah. Mereka ini merupakan sasaran empuk bagi para pejuang untuk menumpasnya. Akhirnya pos-pos sekutu yang tersebar menjadi terisolir. Hubungan radio atau telepon terputus atau kita putuskan dan saluran air dan aliran listrik dimatikan. Maka pos-pos yang terpencil mengalami kekurangan makanan dan minuman, supply makanan, peluru, dan kebuthan lainnya lewat jalan darat tidak lancar, bahkan tidak dapat dilaksanakan karena truk-truk mereka dicegat dan dirampas dengan segala muatannya. Dropping dari udara pun sulit dilakukan sebab selalu jatuh di tangan rakyat.

 

 

 

 

Di Semampir, badan perjuangan bersama rakyat berhasil memukul Inggris dan Gurkha. Daerah Semampir, Jatipurna, Pekulen adalah daerah perkampungan yang dekat dengan Pangkalan Angkatan Laut Ujung.

Karena kesibukan di daerah Semampir, Jatipurna dan Pekulen ini, maka pos-pos pertahanan PRIAL di perkuat. Maka, kembali terjadi pertempuran dengan pasukan Inggris yang dimulai sejak pagi semaikin hebat. Akibat tembakan lawan banyak rumah penduduk yang hancur atau ditinggalkan penghuninya. Pertempuran baru berhenti setelah ada perintah dari Bung Karno pada siang hari berikutnya. Pasukan Inggris ditarik ke utara. Pada garis pertahanannya yang baru, Inggris membuat lubang-lubang perlindungan dan membuat pertahanan serta mendatangkan pasukan barunya. Untuk menghadapi hal ini maka pasukan PRIAL di Pekulen, Jatipurna dan Semampir juga dikerahkan untuk bersiap-siap di posnya masing-masing. Di sekitar Benteng miring serangan terhadap pasukan Inggris yang menduduki rumah disebelah gedung sekolah Al Irsyad baru dimulai jam 17.00. Serangan dilakukan dari jurusan Pekulen dan Sawah Pulo. Dari kota dikerahkan dua buah mobil berlapis baja. Pertempuran berlangsung secara bergelombang dan telah menelan korban besar dikalangan rakyat. Minngu siang itu, Sumarsono (pimpinan umum PRI) setelah mengadakan perundingan dengan para wakil badan-badan perjuangan rakyat Surabaya, di markas darurat drg. Mustopo kurang lebih jam 16.00 dengan persetujuan drg. Mustopo mereka memutuskan, Inggris harus dilawan!. Sumarsono berpidato di Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya, membrikan komando kepada kesatuan-kesatuan pemuda untuk melawan Inggris. Disusul Bung Tomo (pemimpin Barisan Pemberontak Republik Indonesia) lewat radio BPRI, pidato yang isinya memerintahkan pasukan rakyat untuk mengangkat senjata. Kedua pidato itu sebelum dimulai, di dahului dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta mars perjuangan. Mendengar pidato kedua pemimpin lasykar itu para pejuang semakin bergairah untuk mengadakan serangan terhadap pos-pos Inggris. Perintah menyerbu itu disambut rakyat Surabaya dan pemuda pejuang dan seruan “Siaaap” gegap gempita membahana. Dengan serentak mereka menyerbu ke tempat-tempat yang diduduki pasukan Inggris dan Gurkha terdekat.

 

 

 

 

Sedetik kemudian suasana kota Surabaya diliputi desingan peluru dan letusan senjata. Dengan keberanian penuh semangat rakyat dan pejuang menyerbu pos-pos yang diduduki Inggris. Pertempuran yang berkobar-kobar terdengar di beberapa bagian kota, namun rakyat tetap tenang, tidak panik. Anak-anak dan Ibu rumah Tangga dengan tenang berkumpul dengan keluarganya, sementara berpuluh-puluh pemuda dari kampung di tengah kota Surabaya bersiap-siap untuk maju kemudian perang. Jika dari tempat pertempuran membutuhkan tenaga bantuan, maka pemuda-pemuda tersebut bergerak segera mengangkat senjata dan ada kalanya orang-orang tua yang menggabung. Mereka-mereka itu mendorong semangat dan menambah keberanian anak-anak muda yang sedang melakukan serangan dengan semboyan “Merdeka atau Mati”. Kaum wanita pun tak mau ketinggalan giat mendirikan pos PPPK dan membantu dapur umum serta membagi-bagikan makanan bagi para pejuang di garis pertempuran. Begitu juga dengan penduduk kampung, dengan tidak diminta menyediakan tenaga mereka untuk meperkuat penjagaan keamanan kampung atau ikut menyelenggarakan membuat rintangan-rintangan jalan, kubu-kubu pertahanan kampung dan sebagainya. Rakyat bertekad, biarlah segalanya diberikan (benda apa saja mereka seret ke tengah jalan), asal pasukan Inggris tidak dapat menggunakan kendaran angkutannya dengan leluasa di jalan raya.

Tanggal 28 Oktober 1945 (tanggal yang sama dengan hari Sumpah Pemuda), dicatat dalam sejarah Internasional sebagai hari naas bagi pasukan sekutu. Kesatuan yang baru keluar dari kancah peperangan “Perang Pacific” mengalami mala petaka dibumu Jawa Timur. Mereka bagaikan singa jantan masuk sarang lebah, di sengat ratusan lebah secara bertubi-tubi, tanpa ampun. Singa meraung-raung kesakitan, minta bantuan suaranya sampai di Jakarta. Tapi bala bantuan tak juga kunjung datang.

 

 

 

 

PASUKAN INGGRIS TERJEPIT

 

Siasat yang menimbulkan kesengsaraan pasukan pendudukan sekutu, adalah aliran listrik dan air minum diseluruh kota Surabaya diputuskan. Sehingga mereka akan sulit bergerak ke dalam kota. Apalagi pada bulan Oktober itu merupakan puncak kemaraunya Surabaya. Air amat mahal dan persediaan air minum mereka hanya disupply dari kapal mereka. Tapi bagi orang Surabaya memperoleh air bersih tidak menjadi persoalan. Pada jaman Jepang banyak sumur diperiksa dilaboratorium, dan pada sumur-sumur tertentu airnya dapat diminum. Juga sudah sejak jaman Jepang terbiasa pada malam hidup dengan lampu diselubungi atau dipadamkan. Pada malam-malam biasa, tidak boleh lampu bersinar bebas, harus diselubungi. Apalagi kalau ada bahaya udara ketika pesawat terbang sekutu menyerang atau mengadakan pengintaian di atas kota Surabaya pada malam hari, lampu harus dipadamkan sama sekali. bahkan orang merokok pun dilarang. Kegelapan kota bukan masalah bagi penduduk Surabaya, sebaliknya akan merepotkan pihak pasukan Inggris. Markas mereka akan gelap gulita, jika mereka berani menyalakan lilin, maka pada malam serangan itu cahaya lampu di tempat pendudukan Inggris akan memperjelas sasaran penyerangan.

 

 

 

 

Sepasukan Polisi Istimewa dibawah pimpinan Soejono Prawiro Bisma melopori menyerang Hotel Liberty (Yamato Hotel atau Orang Hotel) di Tunjungan yang diduga menjadi sarang NICA. Serangan itu tentu saja segera diikuti oleh para pemuda pejuang. Hingga terjadilah pertempuran yang seru pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 1945. Serangan itu berkembang menjadi pertempuran yang merembet di Pasar Besar dan sampai di daerah utara. Sekitar jam 14.15 sepasukan tentara Gurkha sebanyak kira-kira 35 orang dibawah pimpinan seorang mayor bangsa Inggris dengan tidak terduga-duga sama sekali menduduki studio RRI di Simpang. Yang selama ini memutar lagu kebangsaan Indonesia Raya pada pembukaan dan penutupan siaran. Oleh kepala pasukan yang menduduki RRI, kepala dinas Sutoyo ditanyai alamat pimpinan umum. Sutoyo menelepon Sulaiman dan melaporkan keadaan studio. Pada waktu itu instruksi Sulaiman (pemimpin umum) hanyalah supaya semua pegawai bersikap tenang saja dan mempersilahkan opsir Iggris itu datang ke rumah Sukirman yang letaknya di samping belakang gedung studio.

Mendapat jawaban itu dengan segera rumah Sukirman dikepung oleh tentara Gurkha sambil mengadakan stelling siap tempur. Sukirman diajak ke studio dan semua pegawai yang sedang dinas disuruh pulang, sedang Sukirman diwajibkan tinggal. Semua kunci studio dipegang oleh opsir tersebut. Meskipun studio Simpang telah diduduki siaran RRI tiada terhenti. Pendudukan gedung RRI ini segera tercium oleh pemuda pejuang yang berada di sekitarnya. Pendudukan gedung RRI Simpang ini sungguh mengundang permusuhan. Tetapi mungkin karena sikap kekurangajaran pasukan Inggris selama ini, mereka tidak merasa bahwa menduduki gedung itu memancing bentrokan senjata dengan para pejuang Indonesia. Pasukan Gurkha yang berada di gedung RRI melakukan penembakan terhadap orang-orang yang lalu lintas di depan gedung. Perbuatan ini lebih mengundang bentrokan. karena rakyat yang mengepung gedung ini tidak memiliki senjata api yang ampuh, maka mereka segera menghubungi markas PRI, Markas Polisi Istimewa dan lain-lain. Rakyat minta bantuan pasukan bersenjata.

Pengepungan Gedung radio Surabaya di Simpang meletus jadi bentrokan bersenjata. Sayang, rakyat menyerang hanya mengandalkan semangat dan keberanian saja. sehingga banyak jatuh korban dipihak rakyat Surabaya. Seorang Opsir yang merasa ketika tembak menembak (jam 18.00 Minggu, 28 Oktober 1945) pihaknya akan menang. Opsir Inggris itu keluar dari gedung mengendarai jip akan kembali ke markasnya. Ia memang berhasil meloloskan diri dari kepungan rakyat yang tidak lengkap persenjataannya, tetapi sampai Markas Pemuda Republik Indonesia di Simpang Club, dicegat oleh para pemuda yang bersiap-siap disitu. Jipnya di rampas dan opsir itu tewas terbunuh. Pertempuran berlanjut sampai jauh malam, serta sampai satu hari berikutnya. Meskipun pada umumnya pasukan Inggris telah mendapatkan gedung sebagai tempat yang tepat strategis untuk bertahan atau melancarkan serangan, namun karena besarnya tekanan rakyat begitu ketat, maka kebanyakan markas pasukan Inggris akhirnya menjadi lemah. Untuk bertahan tidak mungkin, mereka terpaksa mencari bala bantuan, dan ini pun sulit, jalur-jalur jalan dikota penuh rintangan dan pasukan rakyat serta lasykar menghalanginya. bantuan makanan atau minuman juga tidak dapat disampaikan, air minum pipa di seluruh kota telah diputuskan, hingga tidak mungkin mereka mendapatkan air minum. Karena itu pada umumnya pasukan Inggris yang berada di pos-pos dalam keadaan terjepit.

 

 

 

Pada hakikatnya serangan serentak terhadap posisi Inggris yang diperintahkan pada jam 16.00 sore tanggal 28 Oktober 1945, merupakan serangan mutlak dari seluruh kekuatan Indonesia di Surabaya. Seluruh lapisan masyarakat, hari itu bergerak serentak bahu membahu hendak bersama menghancurkan pasukan Inggris yang congkak masuk ke kota, yang besikap sebagai penakluk menduduki dengan paksa gedung-gedung didalam kota Surabaya. Keberanian para pejuang diakui oleh pihak Inggris yang bertempur secara fanatik tanpa memperhitungkan kelemahan dirinya. Korban yang jatuh sama sekali tidak menggetarkan para penyerbu. jika seorang gugur segera digantikan oleh yang lain. pemandangan sangat mengerikan dan mengahrukan. korban dipihak inggris pun banyak sekali. Keberanian para pemuda membuat mereka ngeri dan ketakutan. Meskipun pasukan sekutu banyak berpengalaman berperang di Burma, namun tidak pernah menghadapi massa rakyat berani mati berbondong-bondong seperti itu. Mereka melihat mayat yang saling bertindih di jalanan tanpa memperhitungkan, mempertaruhkan jiwa dan raga demi kehormatan bangsa yang mempertahankan kemerdekaan. Posisi pertahanan Inggris makin bertambah kritis.

 

GENCATAN SENJATA

 

Brigadir A.W.S Mallaby dalam keadaan terjepit melaporkan keadaannya pada atasanya di Jakarta. Mereka memerlukan orang dari pihak Indonesia yang dapat mengendalikan emosi rakyat di Surabaya. Menurut pandangan mereka pemimpin Indonesia di Surabaya tidak bisa diandalkan untuk meredakan emosi itu. Letnan Jendral Christisch, Komandan AFNEI (di jakarta) meminta kepada Presiden Sukarno untuk melerai pertikaian pasukan Inggris dengan Rakyat Indonesia di Surabaya. Maka, Presiden Bung Karno dan Bung Hatta bersedia terbang ke Surabaya keesokan harinya tanggal 29 Oktober 1945. Sementara itu pertempuran terus berlangsung. Rakyat daerah Koblen dan sekitarnya tidak tenang, sejak hari Minggu malam tanggal 28 Oktober 1945 tersiar berita bahwa di Penjara Koblen orang-orang Jepang di tawan oleh para pemuda telah dipersenjatai oleh pasukan Gurkha yang menduduki rumah penjara itu. Rakyat merasa terancam, mereka siap menyerbu. Namun penyerbuan tertunda karena di antara pemuda yang mengepung persenjataannya sangat sedikit. Paling banyak membawa senjata tajam, sedang yang memiliki senjata api pada umumnya belum mahir menggunakannya. penyerbuan yang pertama terjadi pada Senin 29 Oktober 1945, dimulai oleh pemuda API yang bermarkas berdekatan dengan penjara itu. Mereka juga meminta bantuan Polisi Istimewa. Polisi Istimewa pasukan resmi pemerintah yang paling mula-mula memiliki senjata. Mereka bergerak kemana saja, menunaikan tugas. Lebih-lebih dalam hal penggempuran yang harus menggunakan senjata api.

 

 

 

Sepasukan anggota Polisi Istimewa langsung masuk tangsi koblen untuk menjaga kemungkinan apabila pasukan Gurkha dan Jepang melarikan diri dari panjara dan mencari pangkalan lain. Kurang lebih pukul 09.00 mulai terdengar letusan senjata, disusul dengan tembank menembak dengan pasukan Gurkha, Jepang yang bertahan di dalam penjara. Sebuah pintu dibelakang penjara akhirnya dapat didobrak. Setelah pintu berhasil didobrak, barulah barisan rakyat yang terdepan masuk, disusul dengan mobil berlapis baja milik Polisi Istimewa. Sapuan tembakan musuh dapat dihindari oleh para pemuda yang terus bergerak maju sambil berlindung pada kondisi lapangan yang tidak rata, terbentang yang semula digunakan sebagai kebun. Massa rakyat terus maju dengan bertiarap. menghadapi serangan massa, akhirnya pasukan Gurkha dan jepang yang bertahan di dalam penjara menyerah. Jumlah pasukan Jepang yang menyerah sekitar 300 orang. Akibat serangan rakyat ada beberapa orang pasukan Gurkha yang tewas, sedang yang menyerah digiring rakyat ke Seksi Polisi Bubutan. Selain orang-orang Jepang dan Gurkha di dalam penjara tersebut terdapat beberapa orang kulit putih yang diduga orang-orang NICA.

Senin pagi 29 Oktober 1945, tembak menembak di gedung Radio Surabaya mulai ramai lagi. Polisi Istimewa mengirimkan sebuah kendaraan panser dari markasnya di Coen Boulevard, lengkap dengan senjata dan tiga orang penumpangnya,yaitu Luwito, Wagimin, dan Sutrisno. Melihat banyaknya korban yang bergelimpangan dan tak ada yang berani menolong atau memindahkan ke pinggir jalan, panser datang dari arah barat dengan hati-hati. Panser Polisi Istimewa itu melewati gedung tadi sambil melihat keadaan dan tidak luput dari brondongan tembakan dari atas. Panser berputar ke sebelah kiri dan dari depan gedung, dan laras senapan mesin watermantel 7,7 diarahkan ke jendela tempat orang-orang Gurkha mengintai dan menembak. Rentetan tembakan dilepaskan ke jendela beberapa kali, ternyata mereka tetap mengadakan pembalasan. Rupanya mereka dapat menghindari tembakan dari panser, Luwito turun dari panser, minta kepada para pemuda yang stelling di muka gedung menyingkir ke samping gedung. Dinding kaca dimuka ruang tamu dihancurkan dengan tembakan senapan mesin. Panser yang dikemudikan Wagimin merapat dibawah gedung untuk menghindari lemparan granat musuh. Sutrisno mengawasi gedung sambil melindungi teman-temannya. Mereka berkumpul ke tempat semula, lalu kembali mendekati gedung dengan dua jerigen bensin cadangan yang tersedia didalam panser. Jerigen dibuka tutupnya dan dilemparkan ke lantai, sehinggga lantai gedung basah oleh bensin. Wagiman menjalankan pansernya seperti tadi, tapi agak cepat. Pada kesempatan itu sebuah granat yang telah dicabut pennya dilemparkan ke lantai yang basah oleh bensin. Granat meledak, dan api pun menyala, gedung terbakar hebat. Setelah terjadi kebakaran beberapa saat, maka keluarlah tentara Gurkha kira-kira 10 orang dari kepulan asap. Dalam keadaan muka setengah hangus menyandang senjatanya sambil angkat kedua tangannya ke atas tanda mereka menyerah. Mereka langsung disambut oleh pasukan rakyat dimuka gedung dengan amukan tanpa belas kasih. Di bantai dengan senjata seadanya hingga tewas semuanya. Rupanya rakyat melakukan balas dendam karena kawan-kawan seperjuangannya banyak yang gugur akibat tembakan pasukan Gurkha dari atas gedung itu. Semua pasukan Gurkha yang menduduki Gedung Radio Surabaya tewas terbakar atau diamuk oleh rakyat. Hanya dengan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, Sukirman yang bertahan digedung itu dapat meloloskan diri dan selamat.

 

 

 

Pasukan Inggris di pabrik BAT (British Amierican Tobacco) mendapat serangan dari rakyat Dinoyo pagi hari 19 Oktober 1945. Musuh berhasil keluar dari pabrik, berlindung di bawah jembatan Ngagel. Mereka membuat lubang dan sulit dibinasakan. Akhirnya rakyat juga membuat lubang di atas jembatan tempat mereka berlindung, melalui lubang itu dituangkan bensin, setelah bensin merembes ke bawah api pun di sulut. Api membakar permukaan air sungai, dan pasukan Gurkha itupun bermunculan menyelamatkan diri dari bahaya api. Tapi rakyat Dinoyo telah menanti.

Brantas Hotel dan beberapa gedung di Kayun banyak diduduki oleh pasukan Inggris. Padahal dalam perundingan (tanggal 26 Oktober 1945) salah satu bangunan yang dulu digunakan untuk Roei-vereniging diperkenankan untuk dijadikan markas Brigade 49 dengan satu kompi pengawal. Tetapi pasukan Inggris ini telah berkembang menduduki beberapa gedung di sekitar Kayun. Maka ketika terjadi penyerangan pada pos-pos pasukan Inggris, daerah Kayun, Palmenlaan, Simpang dan Kaliasin merupakan daerah paling ramai menjadi medan pertempuran. Banyak korban jatuh, baik dari pasukan Inggris dan Gurkha, juga dari pihak pemuda Indonesia maupun rakyat. Serdadu Gurkha dan Inggris yang tewas langsung dibuang ke Kalimas yang terus membawanya ke muara. Begitu juga gedung BPM di Societeitstraat dan beberapa pos pasukan Inggris di sepanjang jalan itu dapat direbut oleh pemuda Indonesia. Hanya di gedung Internatio dekat jembatan merah dan bekas kantor dalam Lindeteves dan Javastaal Stockvis dekat Jembatan Semut, pasukan Inggris dan Gurkha masih bertahan di sana. Tembakan-tembakan masih gencar tertuju pada rakyat dan pemuda pejuang yang mengepungnya. Pertempuran terus terjadi hingga siang hari. Namun pasukan Inggris dan Gurkha yang sudah terkurung sudah hampir 15 jam mereka bertempur tanpa dapat berhubungan ke luar. Mereka hanya menembak dan menembak. soalnya, kalau tidak menembak mereka akan diserbu dan tidak ada jalan untuk selamat apabila telah terjadi demikian. Rakyat Surabaya akan berada dihadapan mereka menggunakan senjata tajam apa saja untuk menyerangnya.

 

Pertempuran perebutan Jembatan Wonokromo yang telah diduduki pasukan Inggris dan Gurkha sejak tanggal 28 Oktober 1945 sampai keesokan harinya masih dalam penguasaan pasukan Inggris. Jembatan Wonokromo akhirnya dapat direbut oleh pasukan TKR yang bahu-membahu dengan pasukan lainnya, seperti PRI Pusat, PRI Don Bosco, BKR Pelajar, BKR Surabaya, CSP/PI, BPRI dan lain-lainnya. Direbut pada pagi hari Senin 29 Oktober 1945 sekitar jam 09.00.

Pada saat pasukan rakyat bersatu padu dan bertekad untuk menyerang dan menghancurkan pasukan Inggris yang tersebar dipos-pos dalam kota, di kala seluruh rakyat seluruhnya makin tebal kepercayaannya bahwa kemenangan pasti tercapai oleh bangsa Indonesia, dan hal itu dapat dilihat dari direbutnya berbagai pos musuh. Mulai tampak terbang melayanglah sebuah pesawat Inggris di atas kota, kemudian mendarat di lapangan terbang Morokrembangan pada jam 11.30. Para pejuang yang sedang bergenbira menyambut kemenangan cepat menaruh curiga. Mereka segera stelling dan melaporkan kejadian itu ke markas masing-masing. Sementara itu pertempuran di beberapa bagian kota tetap berkobar. juga di sekitar lapangan terbang, tembakan-tembakan masih terdengar gencar. Tidak ada perintah untuk menghentikan tembak menembak. Jadi ketika pesawat RAF itu mendarat, keadaan kota Surabaya dalam suasana hujan peluru. Tidak semua pejuang sempat mendengar siaran radio BPRI. Apalagi yang berupa radio batere (transistor) amat jarang saat itu. Hampir semua penerima radio adalah radio listrik. Sedang aliran listrik di kota dimatikan. Radio BPRI cepat menyiarkan berita bahwa menurut kabar yang diterima, penumpang pesawat tadi adalah Presiden Republik Indonesia Sukarno. Tapi Bung Tomo khusus berpesan kepada para pejuang yang berada di lapangan terbang Morokrembangan agar tetap waspada dan siap tempur. Para pejuang sudah tidak percaya lagi dengan berita atau janji dari pihak Inggris setelah sekian kali pihak Inggris berbohong dan mencari keuntungan sendiri saja.

Para anggota BKR pelajar dari staf IV yang sebagian anggotanya baru pulang dari pertempuran di gedung Internatio, demi melihat sebuah Dakota RAF berputar-putar diatas kota dan melakukan pendaratan di Morokrembangan segera berlari-lari menuju lapangan untuk mencegah pendaratan itu. setibanya di tempat segera menyusun pertahanan. Segenap senjata ditujukan ke arah pesawat. Muncullah seorang lelaki berpakaian putih pakai pici hitam melambaikan bendera merah putih. Semua pejuang mengenalnya, tiada lain Presiden Sukarno pribadi! Pemimpin bangsa Indonesia. Seorang lelaki berpakaian putih dan pici hitam yang lain muncul dengan bendera merah putih ditangannya, Bung Hatta. Setelah Bung Hatta menyusul pula Menteri Penerangan, Mr. Amir Syarifuddin.

Dengan mengunakan kendaraan sekutu semacam powerwagon rombongan dikawal para pejuang langsung ke luar dari lapangan terbang. Kendaraan itu tertutup rapat, mengibarkan bendera merah putih melaju dijalan tengah kota dalam hujan peluru. Rombongan Presiden Sukarno menuju ke rumah Residen Sudirman, di Van Sandictstraat di bagian timur kota. Ketika kendaran rombongan lewat dekat gedung HBS (Hogere Burger School, sekarang kompleks SMAN Wijayakusuma), pertempuran di situ masih berlangsung. Pagi itu para pemuda pejuang menembaki musuh yang bertahan dibelakang perlindungan karung-karung pasir. Korban pertama dipihak Indonesia jatuh ketika seorang pemuda berusaha memanjat tembok, tertembak kepalanya. Korban kedua adalah seorang pemuda yang tertembak pahanya. Beberapa orang anggota BKR pelajar gugur. juga TKR laut, Marsaid. Seorang guru SPR Pasuruan bernama Hetaria, mereka termasuk korban pertama yang dimakamkan di Taman Makan Pahlawan di Canaplein (Kusumabangsa). Siang itu pertempuran berlangsung gencar. Umar Said tertembak perutnya, ini terjadi pada waktu ia bersama pasukannya dan Lasykar lainnya akan menyerbu masuk gedung HBS dari gerbang barat. Umar Said masih sempat menyerahkan pimpinan pasukannya kepada J. Slamet.

Karena menderita letih dan lapar, sedang bala bantuan tidak kunjung datang maka perlawanan serdadu Gurkha sebanyak dua peleton yang telah bertempur selama hampir 45 jam itu akhirnya dapat dipatahkan oleh pasukan pejuang Indonesia. Korban pihak Gurkha lima orang tewas dan beberapa luka. Kejadian yang sama para pemuda menyerbu markas anggota laut Jepang di Gubeng tertembak pemuda Alimun dari kantor berita Antara Surabaya. Jenazah ditemukan antara para korban pertempuran di CBZ (RSU) Simpang. setelah beristirahat sejenak di tempat Residen Sudirman, kemudian Presiden Sukarno dengan rombingan menuju ke Gubernuran dengan sedan terbuka. PAda waktu lewat dekat gedung HBS, pertempuran di situ telah selesai. Tiba di Gubernuran rombongan Presiden Sukarno di sambut oleh Gubernur Suryo dan Brigadir A.W.S. Mallaby yang dengan rasa cemas telah menunggu. Jendral Inggris ini merasa gelisah dan dapat bernafas lega setelah sekian lama dalam keadaan cemas. Kedatangan Presiden Sukarno benar-benar akan menyelamatkan pasukan yang dipimpinnya. Beberapa saat kemudian datang Wakil Komandan Brigade 49,Kolonel Pugh. Ia juga dalam keadaan pucat pasi dan napas tersengal-sengal, sehabis mengalami perjalanan yang amat berbahaya. Ia bertugas di Rumah Sakit Darmo, dan hanya dengan perjalanan yang ajaib sampai di Gubernuran dengan selamat. Penghadangan dan hujan peluru sepanjang jalan mengancam jiwannya. Brigade A.W.S. Mallaby secara sungguh-sungguh meminta, bagaimanapun caranya, tembak menembak harus dihentikan secepatnya. Seruan gencatan senjata harus diumumkan. Maka para pembesar dari kedua belah pihak segera duduk di meja perundingan. Diluar gedung tempat berunding, kendaraan perang mondar-mandir, bergemuruh bunyinya. Kendaraan Tank milik Indonesia yang direbut dari Jepang yang bisa bergerak berjalan mondar amndir di sekitar kantor Gubernur. Pemuda Indonesia secara demonstratif unjuk kekuatan disekitar temapt pembesar berunding.

Perundingan selasai pada jam 19.30 malam tanggal 29 Oktober 1945, dan menghasilkan sebuah “Armistice Agreement regarding the Surabaya incident; a provincial agreement between President Sukarno of the Indonesia Republic and Brigadier Mallaby”, bunyi perjanjian itu adalah:

1. Perjanjian diadakan antara Panglima Tentara Pendudukan di Surabaya dengan PYM Ir. Sukarno, Presiden Republik Indonesia untuk mempertahankan ketentraman Kota Surabaya.

2. Untuk memperoleh ketentraman dan kedamaian, maka tembak menembak dari kedua belah pihak harus dihentikan.

3. Keselamatan segala orang, termasuk orang-orang Interniran akan dijamin oleh kedua belah pihak.

4. Syarat yang di sebarkan dalam bentuk pamflet oleh sebuah pesawat terbang tanggal 27 Oktober 1945 akan dirundingkan anatar PYM Ir. Sukarno dengan Panglima Tertinggi Tentara Pendudukan seluruh Jawa pada tanggal 30 Oktober 1945 besok.

5. Pada malam itu segala orang akan merdeka bergerak, baik orang Indonesia maupun orang Inggris.

6. Segala pasukan akan masuk dalam tangsinya. Orang yang luka-luka akan dibawa ke rumah sakit, dan dijamin oleh kedua belah pihak.

 

Itulah 6 pokok persetujuan pihak Inggris dan Indonesia pada Senin malam tanggal 29 Oktober 1945. Persetujuan ini merupakn persetujuan yang ketiga dalam tempo beberapa hari saja. Yang pertama pada tanggal 25 Oktober di Markas TKR Gedung HVA antara koloni dengan drg. Mustopo. Yang kedua pada tanggal 26 Oktober dibekas konsulat Inggris di Kayun antara Brigadir A.W.S. Mallaby dengan Residen Sudirman dan drg. Mustopo. Dan sekarang tanggal 29 Oktober di Gubernuran antara Brigadir Mallaby dengan Presiden Sukarno. Atas desakan Brigadir Mallaby, malam itu juga Presiden Sukarno menyiarkan persetujuannya melalui Radio Surabaya dan Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya yang banyak didengar orang. Karena tempat siaran Radio Surabaya tidak dapat dipakai untuk siaran karena habis digunakan sebagai ajang pertempuran dan berakhir dengan dibakarnya gedung tersebut. Maka Presiden Sukarno dan Komandan Tentara Inggris di Surabaya itu datang ke jalan Mawar, untuk mengumumkan hasil perundingan mereka di corong Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya. Setelah mereka berbicara, maka Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya menyiarkan penringatan kepada segenap rakyat Indonesia di Surabaya untuk taat pada perintah Kepala Negara. Tetapi di samping itu harus tetap siap dan waspada terhadap tentara asing yang masih bercokol di dalam kota. Setiap saat, bila mereka mendahului menembak pertempuran harus dikobarkan lagi. Sekalipun perintah penghentian tembak-menembak telah diturunkan, namun disana-sini masih terdengar bunyi tembak menembak. Entah siapa yang memulai, tetapi pertempuran belum mau berhenti secara menyeluruh. Karena listrik dimatikan, maka siaran radio tidak begitu efektif lagi. Makan sejak perundingan antara Presiden Sukarno dan Mallaby berlangsung, Bung Tomo memerintahkan kepada Mokhamad Sifun untuk memasang radio rimbu, dengan tujuan agar komandonya cepat didengar rakyat seperti sebelum aliran listrik mati.

 

Perundingan antara Presiden Sukarno dan Mallaby senja hari itu merupakan langkah maju bagi perjuangan Indonesia yang sama sekali tidak berpengalaman dalam lika-liku diplomatik Internasional. Kita belum menyadari kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan sehingga tidak dapat memanfaatkan momentum kemenangan dengan sebaik-baiknya. Siapakah yang paling bertanggung jawab atas kejadian di Surabaya? dimanakah “menteri pertahanan ad interim” sebagai penyebab terjadinya insiden Surabaya yang sangat diluar dugaan dunia Internasional, khususnya sekutu dan Belanda itu sendiri? Mengapa Mustopo tidak muncul justru pada saat kedatangan para pembesar tertinggi dan pemimpin tentara sekutu yang paling bertanggungjawab atas ultimatum yang berakhir dengan kemenangan di pihak Indonesia. Mengapa dia tidak hadir dalam perundingan yang bersejarah antara Sukarno dan Mallaby, padahal dialah orang pertama yang seharusnya mendampingi Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta? Apakah ada unsur lain yang menyebabkan absennya orang yang paling dibenci Mallaby dan orang-orang Belanda?. Keputusan yang dicapai dalam perundingan antara Republik Indonesia dan Mallaby bersifat sementara, menunggu datangnya Panglima Divisi 23 India atasan Mallaby, Mayor Jendral D.C. Hawthorn. Panglima Inggris itu akan menyusul ke Surabaya keesokan harinya tanggal 30 Oktober 1945, malam hari itu, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta bermalam di rumah Gubernuran atau di Gubernuran Soerjo di Simpang.

 

PERTEMUAN ANTARA PRESIDEN SUKARNO DENGAN PANGLIMA DIVISI INDIA 23, MAYOR JENDRAL HAWTHORN

 

Untuk persiapan perundingan itu beberapa pejabat pemerintah Republik Indonesia serta pucuk pimpinan badan-badan perjuangan diundang oleh Menteri Penerangan Mr. Amir Syarifuddin untuk bertemu di tempat kediaman Gubernur di Simpang. Pada kesempatan itu Mr. Amir Syarifuddin mempertanyakan adanya kemungkinan provokasi dari pihak Belanda yang akan menyulitkan kedudukan Indonesia. Juga tentang kedudukan umat Kristen di Surabaya. Bung Tomo yang juga datang bersama Sumarno menjelaskan, bahwa rakyat Surabay telah memahami kelicikan politik Belanda yang suka memecah belah kesatuan rakyat. Jadi tidak perlu di khawatirkan perihal perpecahan rakyat karena agama dan suku. Orang Surabaya tidak berjuang sendirian, tetapi bersama-sama seluruh suku bangsa Indonesia di Surabaya. Ada PRISAI yang terdiri dari pemuda Sulawesi, ada API (Angkatan Pemuda Indonesia) Ambon, ada Mokhamad Yassin dari Sulawesi, ada Des Alwi dari Aceh, ada Rustam Zain dari Padang, ada Abel Pasaribu dari Batak, ada Barlan dari Parahiyangan, ada Rambe dari Minahasa, Andi Aris dari Makasar, Twege keturunan Cina, semua berjuang untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia. Dalam pertempuran yang sedang berlangsung itu, tidak sedikit pemuda dan pemudi Kristen Indonesia ikut menyerahkan jiwa raga untuk tanah air Indonesia di tengah-tengah desingan peluru.

Pada kesempatan itu datang pula “Menteri Pertahanan ad-interim” drg. Mustopo, menghadap Presiden Sukarno di Gubernuran. Mustopo melaporkan kelicikan-kelicikan sekutu dengan memperlihatkan bukti-buktinya, Ia mengenakan pakaian serba hitam dan memakai ikat kepala (bahasa Jawa; iket). Tiap kali ia meraba pucuk iketnya di dahi, dibetulkan letaknya agar tepat di tengah dahinya. Setalah ia melaporkan ia duduk dilantai sudut ruangan seperti melakukan semedi. Bung Hatta masuk ruangan, melihat ada orang duduk disudut, ia bertanya pada Bung Karno, Siapa orang itu? setelah diberi tahu bahwa dia Mustopo segera Bung Hatta menegur, “la, ini dia pemberontaknya, ekstrimisnya!”. Mustopo menjawab, “memang, lebih baik berontak, mati dalam perjuangan daripada dijajah bangsa asing lagi” sambil menunjuk kepada para perwira dan tamu-tamu asing di sekelilingnya.

Maka terjadilah perdebatan, Bung Karno melerainya. Kemudian Mustopo menjelaskan perjuangan orang-orang Surabaya dengan memberikan bukti-buktinya untuk mempertahankan kemerdekaan. Akhirnya dengan nada lembut, berkatalah Presiden Sukarno “sekarang drg. Mustopo saya pensiunkan dan saya angkat menjadi Penasehat Agung Presiden Republik Indonesia di Jakarta dengan pangkat Jedral penuh”. Mustopo bertanya, “lalu siapa yang mengantikan saya sebagai Menteri Pertahanan ad-interim penanggung jawab Revolusi Jawa Timur? siapa?. Bung Karno menjawab, “saya sendiri”.

Dengan sikap tegap Mustopo memberi hormat militer, meninggalkan ruangan, pulang ke keluarganya di Gresik. Dan berakhirlah pula peranan Mustopo di kota Surabaya. Namun orang tetap mengenang, betapa Mustopo dengan segala caranya yang unik, kocak, aneh dan tidak mudah ditiru oleh orang lain, telah menggerakkan massa Surabaya untuk berjuang dan menegakkan kemerdekaan negara dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Perundingan dimulai dua jam setelah Panglima Divisi India 23, Mayor Jendral D.C. Hawthorn setelah mendarat di Surabaya jam 09.15. Mayor Jendral D.C. Hawthorn didampingi oleh Brigadir A.W.S. Mallaby, Kolonel L.P.H. Pugh, Mayor M. Hobson, Wing Comamander Groom dan Kapten H. Shaw, sedang Presiden Sukarno didampingi oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, Menteri Penerangan Mr. Amir Syarifuddin, Gubernur Suryo, Residen Surabaya Sudirman, Ketua KNI Dul Arnowo,sebagai wakil militer duduk Sungkono, Atmaji, Mohammad Mangundiprojo, wakil badan perjuangan PRI Sumarsono, Ketua BPRI Bung Tomo.

Pihak Indonesia memulai perundingan dengan isi pamflet yang disebarkan oleh Inggris pada tanggal 27 Oktober dan ditanda tangani oleh Mayor Jendral D.C. Hawthorn . Yang isinya pasukan sekutu bermaksud melucuti persenjataan pemuda Indonesia di Surabaya. Dengan tegas TKR, Polisi, PRI dan BPRI menolak isi pamflet tersebut. Akhirnya Jendral Hawthorn sendiri menarik kembali isi panflet itu dan mengatakan bahwa TKR dan Polisi Republik Indonesia diakui dan karenanya berhak memegang senjatanya. Tentang senjata yang ada pada rakyat dan pemuda Indonesia yang bukan TKR dan Polisi, terdapat satu pengertian yang tak terucapkan, bahwa itu adalah persoalan intern pemerintah Indonesia daerah Surabaya.

Hal kedua yang hangat dibicarakan adalah daerah yang diawasi oleh pasukan Inggris. Mereka ingin tetap menguasai tempat-tempat yang telah diduduki, dan minta kepungan pemuda Indonesia dihapuskan. Pihak Indonesia menolak dengan tegas. Indonesia tetap menuntut supaya semua pasukan Inggris di tarik mundur sampai ke pelabuhan. Akhirnya tercapai kompromi, yaitu jalan tengah berdasarkan realita keadaan. Pasukan-pasukan Inggris yang ditarik itu akan dipusatkan di dua tempat, pertama daerah pelabuhan dan kedua di daerah kamp interniran RAPWI di Darmo. Antara kedua tempat pemusatan ini oleh pihak Indonesia dijamin “gerakan atau hubungan bebas”. Pembicaraan ke tiga mengenai siapa yang akan menjaga tempat interniran RAPWI di Darmo. TKR-kah atau Inggris? disini pihak Indoensia agak mengalah dan mempercayakan penjagaannya kepada pasukan Inggris. Sebaliknya TKR dan Polisi Istimewa Indoensia ikut manjaga daerah pelabuhan bersama-sama dengan pasukan Inggris. Kelima perlu tidaknya dibentuk sebuah kontak biro. Pihak Inggris semual tidak mau, sebaliknya pihak Indonesia tidak ingin terulang ladi tindakan sepihak Inggris yang bersifat melanggar persetujuan yang telah tercapai, seperti halnya perjanjian tanggal 26 Oktober. Akhirnya Inggris setuju dibentuk suatu kontak biro dengan tugas untuk mengawasi dan melaksanakan segala persetujuan sampai inciannya. Perundingan berlangsung dari jam 11.30 sampai jam 13.30. Bung Tomo yang mengikuti jalannya perundingan segera menghubungi Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya. Melalui telepon ia memerintahkan kawan-kawannya Pucuk Pimpinan Pemeberontakan yang sedang bertugas di studio agar komando menghentikan bertempur di siarkan, karena Inggris telah menyetujui tuntutan rakyat di Surabaya untuk menarik mundur tentranya dari dalam kota. Beberapa saat kemudian radio Pemberontakan Rakyat Surabaya menyiarkan perintah untuk menghentikan tembak-menembak. Sesuai perundingan, kira-kira jam satu siang Presiden Sukarno dengan rombongan dan Jendral Hawthorn bersama stafnya berangkat ke Jakarta.

 

CATATAN RINGKAS s/d 10 NOPEMBER 1945

 

17 Agustus 1945

Proklamasi Kemerdekaan RI

Tidak terjadi kegiatan-kegiatan / usaha-usaha untuk mengisi siaran Proklamasi Kemerdekaan RI bersama dengan kawan RUSTAM ZAIN, mengelilingi dan mengunjungi tokoh-tokoh RUSLAN WONGSOKUSUMO dan RUSLAN ABDULGANI untuk memperoleh sambutan guna memberi isi/mendukung proklamasi tersebut.

 

1 September 1945

Ternyata ada kelompok mahasiswa kedokteran gigi yang masuk gedung Gubernuran di Surabaya dan menaikkan bendera Merah Putih.

tanggal 3 September dibentuk pemerintah RI di Surabaya atas desakan angkatan muda. Terjadi Provokasi-provokasi dan pertentangan hebat antara keturunan Belanda dan Belanda Indo yang mengaku sebagai Persiapan Penerimaan Tahanan-tahanan Perang (RAPWI) dan semakin beranilah tindakan mereka.

 

19 September 1945

Peristiwa Hotel ORANGE (Yamato) pada tanggal 19 September 1945, sekelompok Belanda/Indo menaikkan bendera merah putih biru di Hotel YAMATO/ORANJE, Tunjungan. Dengan perkelahian, bendera merah putih biru diturunkan dan diganti dengan bendera Merah Putih (Sdr. Kusno Wibowo SH dan Manahutu dan beberapa pemuda lain). Mr PLOEGMAN yang berkelahi didepan Hotel ORANGE cidera dan meninggal.

 

21 September 1945

Pada tanggal ini telah diselenggarakan rapat raksasa pemuda di Lapangan Tambaksari yang hendak mendukund Proklamasi 17 Agustus 1945, setelah rapat raksasa ini lalu dibentuk Pemuda Republik Indonesia (PRI) dengan pasukan keamanan P1-P10, dimana-mana terjadi penahanan dan perampasan-perampasan senjata dari Jepang Sipil/Militer yang berkeliaran di kota Surabaya. Penangkapan dan pembersihan terhadap orang-orang Belanda/Indo yang di sangka/tuduh bekerja untuk kepentingan Belanda.

Disamping ada peristiwa-peristiwa yang sangat membahayakan yaitu dari penyembelihan anjing-anjing Jepang di Bubutan dan tempat lain. Orang-orang Jepang yang bisa diselamatkan di serahkan kepada Hooft Biro Polisi di Surabaya.

Beberapa pimpinan pasuka 1 s/d 10 diberi pangkat Polisi Inspektur Titulair untuk melegalisir penangkapan-penangkapan. Selanjutnya orang-orang Jepang itu diserahkan kepada Markas Besar Pimpinan Tentara Jepang gedung HVA / Jendral Iwabe. sementara dilakukan perundingan antara jend. MUSTOPO, RUSLAN ABDULGANI, dan RUSTAM ZAIN mengenai penyerahan senjata-senjata Jepang dan pengungsian-pengungsian Jepang keluar kota Surabaya dengan Jend IWABE, 10 Oktober s/d 15 Oktober 1945 usul ini diterima dengan baik dan tentara Jepang (karena organisasi Polisi dipercaya) diungsikan dari gedung HVA yaarmarch Taman Hiburan Rakyat Jl. Cannalaan untuk selanjutnya diangkut dengan bis-bis dan kendaraan lain ke Pujon/Selecta, Malang.

Waktu utusan-utusan yang mengaku diri dari RAPWI bernama Kapt. Laut HUIYER dan Letnan ROELOFSEN diturunkan dengan parasit, pasukan Jepang sudah kosong dari Surabaya dipindahkan ke Pujon. Alat-alat seperti sender radio dari pasukan Jepang kami serahkan kepada kelompok pemuda dibawah pimpinan Bung Tomo dan pada pertengahan bulan Oktober terbentuk Barisan Pemberontak RI, disamping kesatuan lain kesatuan lainnya yang akmi bagi senjata-senjata lengkap.

 

25 Oktober 1945

Tentara Inggris didaratkan di Tanjung Perak dan regunya disebarkan ke seluruh penjuru Surabaya. Tanggal 26-27 Oktober tentara Inggris menduduki LP Kalisosok dan melepaskan tahanan d.a. Kapt. Laut HUIYER dan Letkol ROELOFSEN. Dibentuk kontak biro dimana Roeslan Abdulgani ditunjuk duduk didalamnya, lihat halaman 36, buku “100 HARI DI SURABAYA” DR. H. ROESLAN ABDULGANI. Karena sikapnya tentara Inggris yang mau berbuat dan sewenang-wenang sendiri, terjadi pertempuran dahsyat pada tanggal 28-29 Oktober.

 

29 Oktober 1945

BUNG KARNO, BUNG HATTA, dan AMIR SYARIFUDDIN datang dari Jakarta untuk memadamkan pertempuran itu.

 

30 Oktober 1945

Jend. MALLABY tewas waktu berusaha dengan pembesar RI Jawa Timur/Surabaya memadamkan pertempuran di Gedung Internatio/Jembatan Merah.

 

8 Nopember 1945

Kontak biro dipanggil oleh pengganti Jend. MALLABY, yaitu Jend. MANSERGH dan diberi ultimatum untuk menyerahkan senjata.

 

10 Nopember 1945

Gempuran dari Laut, Darat dan Udara Tentara Inggris.

 

 

TEWASNYA BRIGADIR A.W.S. MALLABY

 

Setelah mengantarkan rombongan ke lapangan terbang, sekitar jam 15.00 kontak biro mengadakan sidangnya yang pertama. Diselenggarakan di kamar kerja Residen Sudirman di kantor Gubernur. Ditunjuk sebagai sekretaris untuk masing-masing pihak adalah Ruslan Abdulgani dan Kapten Shaw. Dan anggota-anggota dkontak biro dari pihak Inggris; Brigadir A.W.S. Mallaby, Kolonel L.H.O. Pugh, Mayor M. Hobson, Wing Commander Groom. Sedangkan dari pihak Indonesia; Residen Sudirman, Dul Arnowo, Atmaji, Muhammad, Sungkono, Suyono, Kusnandar, dan T.D. Kundan.

Rapat pertama dimulai dengan menyusun rencana kerja. Masalah pokok yang harus segera dipecahkan ialah bagaimana mengefektifkan gencatan senjata yang telah disepakati itu. pengumuman berlakunya gencatan senjata yang disiarkan melalui radio pada tanggal 29 dan 30 Oktober 1945 secara terus menerus, rasanya kurang dipatuhi secara serentak. Memang banyak para pejuang yang sedang mengepung kedudukan musuh tidak berkesempatan mendengarkan pengumuman itu. Apalagi radio penerima yang berada di masyarakat kebanyakan radio listrik, dan pada waktu itu listrik tetap padam. Wajar kalau pelaksanaan gencatan senjata berlangsung tidak serentak. Keadaan disekitar gedung Lindeteves dekat Jembatan Semut masih gencar terdengar tembak menembak.

Di gedung sekolah Al Irsyad sejak jam 15.00 sampai jam 17.00 tentara Inggris dan Gurkha mengadakan tembakan pada penduduk di sekitarnya. Sejauh itu rakyat tidak mengadakan perlawanan, karena hendak mematuhi seruan penghentian tembak menembak dan gencatan senjata. Namun pihak lawan masih saja melakukan penembakan gencar. Serentak pasukan Inggris dan Gurkha tadi turun dari gedung dan mengadakan gerakan baru, yaitu menguasai industri di gedung Abassamin dan sekitarnya. Akhirnya rakyat tidak dapat menahan kesabaran, lalu mengadakan perlawanan seru. membakar gedung Abassamin yang menjadi sarang-sarang tentara sekutu tersebut. Sampai jam 18.00 mereka terpaksa mundur dan kembali ke gedung Al Irsyad dan kembali dikepung oleh rakyat seperti keadaan semula.

Mengahadapi kenyataan bahwa pertempuran masih juga berlangsung dibeberapa tempat didalam kota, maka musyawarah dalam kontak biro dengan suara bulat mengambil suatu keputusan untuk segera dilaksanakan, yaitu menghentikan tembak-menembak di tempat kejadian. kira-kira jam 17.00, iring-iringan 8 buah mobil…

(to be continued) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads
Comments
  1. cp says:

    waw dapet aja bro bukunya, boleh minta nama2 peristiwa yang digambar atas semua ga?
    yg pertama kan cover, trus ke 2 insiden bendera trus yg bawah2 bingung bro perang pas kapan aja…lumayan buat referensi nih haha

  2. dee-dee says:

    ikud po’o klo mo jalan2 k lokasi na d surabaya??
    ku ne ank surabaya yg buta jalanan sana?hehehe

  3. arifin.yeahyeah says:

    merdeka!,kapan2 diulas juga peristiwa penangkapan pangeran diponegoro dalam perang jawa ,artwork yg di lukis basuki abdullah keren.hehe

  4. Ressanda Tamaputra Radjamin Nasution says:

    Hebat, nemu dimana buku nya? Lukitaningsih Irsan Radjamin itu nenek saya :)

    • sonny bdoors says:

      wah ktemu dgn cucunya nih….:D bukunya saya nemu di lapak pasar buku bekas di shopping bringhardjo jogja..kl gk salah saya beli buku itu hargane 8000/9000an…sebenarnya msh pingin neruskan ngetik ulang lg….tp msh blm ada tenaga lebih buat ngetiknya hehehehe…nti pas 10 november akan saya ketik lagi….MERDEKA !!!

  5. ady says:

    mas, saya lagi ngumpulin anak2 yang tertarik ma pertempuran 10 nop, mungkin kita bisa share data atau jalan2 bareng ke ex lokasi2 pertempuran

    add ym saya: ady_maju_jalan03

  6. inot says:

    Untuk urusan meraba,yo mesti ijin dulu lur…jadi seijin pasienlah…hehehehe,terus harus ada indikasine,gak langsung makmek..hahahaha..apalagi kita selalu merasa di awasi oleh YANG DI ATAS..ehm,emang wis nasibku lur,padahal saiki wis tobat tenanan lho..sumpritt!!..

  7. mbeloer says:

    dengan semangat sumpah pemuda mestinya kita sumpah juga dokter kandungan kita ini pada waktu memeriksa pasien untuk TIDAK KORUPSI RABAAN , walah bahaya iku, arep di adukan malpraktek kok yo cuma diluk dan gak mbekas, tapi dijarne kok yo ngganjel banget he he …. nasibmu pak dokter kok sik kenek sangkut ae padahal topik e uuuuaaaadddooooohhhh

  8. mbah admin says:

    Aulia Pohan silakan terus diproses proses hukumnya…kasihan Annisa yo ???
    Rambute alus, …..haiyah.!!!!
    Maju terus KPK kita ! Mumpung lagi ada spirit Sumpah Pemuda di bulan Oktober dan disambung semangat kepahlawanan di bulan November…

  9. sonny bdoors says:

    setubuh not, eh..setuju!!! dan mari kita lihat apakah Aulia Pohan, besannya SBY itu jd dihukum apa gk? yang jelas mari kita ciptakan sendiri sistem dalam keluarga kita. soale negara sudah tidak menciptakan sistem yang baik bagi warganegaranya. dan tentunya kwe mesti gk setuju kl UU pornografi itu disahkan, soale kwe kan tiap hari berhubungan dengan para ibu-ibu yang sedang dan akan hamil…hahahaha..nti kl kwe dituduh melakukan tindakan pornoaksi, bisa bahaya tuh !!!

  10. inot says:

    aku bangga sama kamu doors!!..dijaman seperti ini masih ada anak muda yang peduli dengan perjuangan pahlawannya..peduli dengan negaranya..rasa nasionalismenya..Aku juga sefaham denganmu,masa sekarang ini rasa nasionalisme harus ditingkatkan,aku prihatin dengan semakin banyaknya pejabat korupsi,memperkaya diri sendiri tanpa peduli dengan penderitaan masyarakat sekitarnya.Mau dibawa kemana negri tercinta ini..sampai aku pernah berfikir dihidupkan saja wajib militer agar para pemuda bisa mencintai negaranya,tumbuh rasa nasionalisme yang tinggi..dan tentunya Hukuman Mati bagi para koruptor!!!ingat,tidak ada negara yang maju tanpa adanya rasa nasionalisme yang tinggi…

  11. sonny bdoors says:

    sorry teman, ceritanya msh bersambung..!nanti kalau sudah ada waktu longgar tak ketik lagi. jadi ide awal dari penulisan cerita perang ini adalah, 2 minggu terakhir ini aku sedang kecanduan game “Warcraft III reign of chaos” hehehee…setelah 2 minggu yang melelahkan itu akhirnya tamat juga game itu. pas bongkar-bongkar buku, eee…ktemu buku “Peristiwa 10 Nov. dalam Lukisan”. jadilah semangat ngegame td tak lampiaskan ngetik ulang buku itu. hehhehehe…selamat membaca, yang pasti harus sabar membacanya…masih untung kita cuma disuruh baca peristiwa 10 Nopember 1945. bayangkan para pejuang yang bertempur pada saat itu. jiwa raga dan harta benda di serahkan buat negara ini. ternyata merdeka itu berat !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s