Musik reggae sendiri pada awalnya lahir dari jalanan Getho (perkampungan kaum rastafaria) di Kingson ibu kota Jamaika. Inilah yang menyebabkan gaya rambut gimbal menghiasi para musisi reggae awal dan lirik-lirik lagu reggae sarat dengan muatan ajaran rastafari yakni kebebasan, perdamaian, dan keindahan alam, serta gaya hidup bohemian. Masuknya reggae sebagai salah satu unsur musik dunia yang juga mempengaruhi banyak musisi dunia lainnya, otomatis mengakibatkan aliran musik satu ini menjadi barang konsumsi publik dunia. Maka, gaya rambut gimbal atau dreadlock serta lirik-lirik ‘rasta’ dalam lagunya pun menjadi konsumsi publik. Dalam kata lain, dreadlock dan ajaran rasta telah menjadi produksi pop, menjadi budaya pop, seiring berkembangnya musik reggae sebagai sebuah musik pop.
Musik reggae, rastaman, telah menjadi satu bentuk subkultur baru di negeri ini, di mana dengannya anak muda menentukan dan menggolongkan dirinya. Di sini, musik reggae menjadi penting sebagai sebuah selera, dan rastaman menjadi sebuah identitas komunal kelompok sosial tertentu. Tinggal bagaimana para pengamat sosial dan juga para anggota komunitas itu memahami diri dan kultur yang dipilihnya, agar tidak terjadi penafsiran keliru yang berbahaya bagi mereka.
di kota Pare baru-baru ini juga di adakan konser musik reggae, dengan tema “satu untuk damai”. konser reggae kali ini rangkaian dari konser “rastafara cool break”. teman-teman dari komunitas Soundofhope mendapat kepercayaan untuk mengadakan konser “rastafara cool break #2″. acara ini diadakan di pemandian bramasta pare. Parekita mengucapkan banyak terima kasih kepada semua teman-teman yang menjadi pendukung acara tersebut hingga dapat terlaksana dengan aman dan lancar…salam rasta!!!iyo..yo..yo…!!! (bdoors)












“Freedom came my way one day
And I started out of town, yeah!
All of a sudden I saw Sheriff John Brown
Aiming to shoot me down
So I shot, I shot, I shot him down
And I say, if I am guilty I will pay…”