Archive for the ‘Gaya hidup’ Category

h1

republiek of parekita

November 5, 2009

hallo rek….tiba saatnya kita harus menghormati para pahlawan dan sudah saatnya pula kita “lebih” mencintai kota pare. guna menghormati para pahlawan dan kota pare, parekita berencana merilis kaos dengan tema “republiek of parekita”. 2 ikon kota dijadikan illustrasi pada desain kaos kali ini, yaitu tugu mastrib dan tugu garuda. untuk itu, mari kita adakan polling. setujukah anda kalau desain kaos ini di produksi? kalau setuju, anggukan kepala anda, kalau tidak setuju goyangkan pantat anda… :) (SBR)

h1

Kho Ping Hoo

October 15, 2009

Ide saya menulis ulang biografi asmaraman Kho Ping Hoo ini berawal pada waktu jalan-jalan di pegadaian dan mampir di Perpustakaan Mastrip.

Saya tidak tahu banyak mengenai kho ping hoo, karena saya lebih senang baca komik dan novel yangg ringaan–ringan, tetapi sewaktu baca buku di Perpustakaan Mastrip saya tidak sengaja baca salah satu seri dari Kho Ping Hoo, lama-kelamaan saya mulai menyukai cerita2 nya, banyak nilai  positif yg terkandung di dalam karya Kho Ping Hoo, karena beliau dapat menerjemahkan etika  bangsa timur khususnya Jawa dan Cina.

Nama  Asmaraman S. Kho Ping Hoo  sangat popular sebagai  penulis cerita silat. Penggemarnya sangat luas, terdiri dari generasi tua maupun muda. Latar belakang budaya etnies Cina sangat mewarnai karya-karyanya. Pengetahuannya soal dunia persilatan membuat karya-karyanya begitu hidup. Pengolahan alur ceritanya membuat pembaca selalu penasaran.

Penulis yg sangat produktif ini mendobrakkan pendapat umum yg mengatakan bahwa menjadi penulis tidak bisa memberi jaminan finansial untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kho ping hoo membuktikan kalau anggapan ini salah. Dari  400 judul cerita bertema silat cina,serta sekitar 50 kisah dengan latar belakang kultur jawa,Kho ping hoo menangguk uang jutaan rupiah.Pada akhir  1970-an, Ia mampu memperoleh pendapatan Rp 2 juta per bulan atau 20 kali lipat penghasilan seorang pegawai negeri rendahan.

Asmaraman S. Kho Ping Hoo lahir di Sragen pada tanggal 17 Agustus 1926. Pendidikannya hanya sampai kelas 1 HIS. Tapi minat bacanya tinggi. Plus, kemampuan beradu jurus yangg diperolehnya dari sang ayah. Dua kombinasi ini sudah cukup memberikannya inspirasi untuk menulis. Mengaku banyak terpengaruh oleh filsuf india, Krisnamurti, Kho Ping Hoo mulai berimajinasi dalam dunia tulis menulis sejak 1958. Cerpen pertamannya dimuat di majalah terbesar Indonesia saat itu, Star Weekly. Selanjutnya karya silat perdanannya “Pedang Pusaka Naga Putih” dimuat dalam majalah “Teratai” yang didirikannya bersama sejumlah pengarang. Sedang karyannya yg paling terkenal adalah “Pendekar Super Sejati”.

Latar tulisannya tidak melulu berlatar belakang etnis Cina. Kho Ping hoo juga dengan fasih mendeskripsikan budaya jawa dalam cerita-cerita karangannya. Hingga kini Karya-Karyannya masih  banyak dicari dan dikoleksi masyarakat. Dalam sejarah cerita silat, barangkali tidak ada karya yang bertahan puluhan tahun seperti Kho Ping Hoo. Namannya lebih terkenal ketimbang karya sastrawan “serius”.

Cerita-cerita Kho Ping Hoo banyak di hiasi kata mutiara maupun hikmah positif yang bisa di petik pembaca tanpa harus menganalisisnya secara rumit. Ia memiliki prinsip yg banyak dianut oleh orang dari berbagai latar belakang, termasuk pengusaha dan politikus, salah satu kalimatnya yang terkenal adalah “Seorang musuh terlalu banyak buat saya, tetapi sejuta sahabat masih kurang”.

Meski sudah dipanggil Sang Pencipta pada hari jum’at, 22 juli 1994, Kho Ping Hoo masih di kenang oleh jutaan penggemarnya.

(arifin yeah yeah, warga tulungredjo suka the beatles sekali kali Baca komik)

Sumber: buku 100 tokoh yg mengubah indonesia, koran bekas, internet.

h1

mimpi punya radio

March 21, 2009

“di radio, aku dengar…lagu kesayanganmu…” (Gombloh, “di radio”)

Kemaren waktu kumpul dengan teman2 parekita di wapo saya sempat mengelontorkan ide soal radio komunitas. Menurut saya, tidak ada salahnya kl parekita punya radio komunitas. Melihat banyak sekali teman-teman dari parekita yang mengeluti dunia musik, entah itu sebatas pendengar musik, hobi atau sebagai “panguripan”. Sebenarnya ini ide yg cukup liar, mengingat keterbatasan SDM dari teman-teman parekita. Terutama masalah dana dan waktu. Tapi, dari pada ide ini membusuk di kepala saya, mending saya gelontorkan saja. Siapa tahu ada orang “gila” yang banyak duit yang mau menghibahkan duitnya buat radio parekita.

Pertama saya ingin membahas apa itu radio komunitas. Radio komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan, diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Pelaksana penyiaran (seperti radio) komunitas disebut sebagai lembaga penyiaran komunitas. Radio komunitas juga sering disebut sebagai radio sosial, radio pendidikan, atau radio alternatif. Intinya, radio komunitas adalah “dari, oleh, untuk dan tentang sebuah komunitas”.

Seiring dengan bergulirnya wacana reformasi politik tahun 1998 (karena pada kenyataanya sampai saat ini reformasi hanya sebagai wacana), dengan dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media di Indonesia kala itu. Keberadaan radio komunitas di Indonesia “semangkin” besar dan kuat. Apalagi setelah disahkannya Undang-Undang No. 32 tahun 2002 tentang penyiaran. Di Indonesia saat ini terdapat lebih dari 300 radio komunitas. Yang semuanya tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Radio komunitas sampai saat ini masih menghadapi kesulitan di regulasi. Setelah mendapat pengakuan dari UU Penyiaran tahun 2002, regulasi yang berada di bawahnya seperti Peraturan Pemerintah yang mengatur lebih detail soal perizinan atau frekuensi masih belum mendukung perkembangan radio komunitas.

Ada beberapa karakteristik khusus yang membedakan Radio Komunitas dengan radio lainnya. Pertama Radio Komunitas melayani kepentingan pendengar yang secara geografis terbatas. Kedua, Radio Komunitas adalah Badan Hukum yang kepemilikinnya, pendanaan dan pengelolaannya dari komunitas itu sendiri dan tidak mencari keuntungan semata. Dengan demikian Radio komunitas adalah sebuah wahana komunikasi milik masyarakat yang potensial untuk melayani kepentingan komunitasnya itu sendiri. Pengelolaan Radio Komunitas seringkali menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, dapat berbentuk kekurangtahuan mengenai apa sebetulnya peran yang dapat diambil oleh sebuah radio komunitas di daerah mereka, kebingungan tentang bagaimana menghasilkan suatu siaran yang sesuai dengan keinginan komunitas sampai dengan susahnya mencari dukungan untuk memastikan keberlangsungan Radio. Persoalan teknis pun seringkali muncul sebagai hambatan dalam pengelolaan Radio Komunitas.

Radio komunitas sebagai salah satu bagian dari sistem penyiaran Indonesia secara praktek ikut berpartisipasi dalam penyampaian informasi yang dibutuhkan komunitasnya, baik menyangkut aspirasi warga masyarakat maupun program-program yang dilakukan pemerintah untuk bersama-sama menggali masalah dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya. Keberadaaan radio komunitas juga salah satunya adalah untuk terciptanya tata pemerintahan yang baik dengan memandang asas-asas sebagai berikut:

Hak asasi manusia

Bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui penyiaran sebagai perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dilaksanakan secara bertanggungjawab, selaras dan seimbang antara kebebasan dan kesetaraan menggunakan hak antarelemen di Indonesia.

Keadilan

Bahwa untuk menjaga integrasi nasional, kemajemukan masyarakat dan terlaksananya otonomi daerah maka perlu dibentuk sistem penyiaran nasional yang menjamin terciptanya tatanan system penyiaran yang adil, merata dan seimbang guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pengelolaan, pengalokasian dan penggunaan spektrum frekuensi radio harus tetap berlandaskan pada asas keadilan bagi semua lembaga penyiaran dan pemanfaatannya dipergunakan untuk kemakmuran masyarakat seluas-luasnya, sehingga terwujud diversity of ownership dan diversity of content dalam dunia penyiaran.

Informasi

Bahwa lembaga penyiaran (radio) merupakan media informasi dan komunikasi yang mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi yang seimbang dan setimpal di masyarakat, memiliki kebebasan dan tanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol serta perekat sosial.

Diversivikasi Media Radio Komunitas Untuk melakukan mempererat hubungan dan tukar-menukar informasi antar radio komunitas maka CRI (Combine Resource Institution) memperkenalkan sistem informasi antar komunitas yang disebut dengan SIAR (Saluran Informasi Akar Rumput). Sistem ini menghubungkan radio-radio komunitas melalui teknologi internet sehingga selain siaran mereka juga meng-upload materi siara melalui web suara komunitas.

Parekita, sebagai sebuah komunitas yang cukup besar, saya kira sudah waktunya mencoba membuat media informasi yang bisa di nikmati oleh semua warga muda kota pare. Kita punya beberapa teman yang sudah pernah bekerja di station radio. Bahkan jaman SMA dulu mbah admin pernah membuat pemancar radio amatir yang memutar lagu-lagu rock dan metal pada tahun 90an. Jadi, tidak ada salahnya kalau ide ini kita realisasikan dan siapa tahu bisa menjadi besar. Karena menurut saya, ide besar itu bukan hanya soal mengimplementasikan ide dengan dana atau project dalam skala besar. Ide besar adalah sebuah gagasan yang aplikatif dan bisa dinikmati oleh semua orang. (sonny bdoors)

I’d sit alone and watch your light, My only friend through teenage nights
And everything I had to know,
I heard it on my radio..(queen, Radio Ga ga)

h1

kaos parekita part II

February 5, 2009

karena banyaknya permintaan kaos parekita,  ada rencana untuk membuat kaos lagi dengan logo baru dan tema baru. ada 2 alternatif desain kaosnya bagi teman2 yang mau memesan bisa mengisi di kolom comment, jangan lupa ukurannya sekalian. harga kaosnya Rp. 40.000,- bagi yang di luar kota tambah ongkos kirim Rp. 10.000,-

best regards,

parekita

h1

MENDADAK CALEG

January 11, 2009