Archive for the ‘kuliner seputar pare’ Category

h1

Sate Rastaman; Generasi sang Legenda

November 16, 2009

“Mbah mengingatkan jangan pernah meninggalkan budaya jawa…”

13 Oktober 2009. Sore hari. Saya mulai sibuk mempersiapkan recorder, camera digital dan beberapa peralatan tulis untuk liputan kuliner nanti malam. Ini kali kedua saya menjelajah kisah-kisah tersembunyi di sebalik penjual makanan yang ada di Pare.  Tentu saja sembari mencicipnya.

Memang beberapa hari sebelumnya secara tak dinyana ada pesan masuk di handphone saya. Dari seorang teman yang tinggal di Jogja namun asli putra Pare; mas Sonny Bdoors – begitu saya akrab memanggilnya. Salah seorang peramut weblog Parekita. Dia  memberi masukan tempat kuliner yang menarik. Sebuah warung sate yang terbilang baru. Dikelola seorang muda. Penyuka musik reggae dan gemar mengendara motor tua: Binter Mercy.

Walaupun warungnya terbilang baru namun seorang muda ini sudah lama berpengalaman meracik sate dan meramu gule. Ilmunya ia peroleh dari sang kakek: sang legenda sate Pare.  Tanpa pikir panjang saya pun sepakat dengan tawaran tersebut.

Semua persiapan liputan telah selesai. Terkemas dalam rangsel butut yang masih kuat dan setia terjinjing di pundak. Saya pun bergegas memacu motor. Menelusur jalan. Menuju warung sate Rastaman.

Lelaki itu duduk santai sambil mengisab sebatang rokok. Warung tampak lengang. Hanya ada beberapa orang. Matanya awas menikmati jalanan yang ramai lalu-lalang kendaraan. Warung sate ini terletak di jalan Pahlawan Kusuma Bangsa Pare. Namun, banyak awam terbiasa menyebut jalan ini jalan Kediri. Mudahnya, warung ini ada di sebelah timur kantor pertanian Pare. Sederet dengan ruko-ruko. Saya pun nyelonong dan langsung memarkir motor di sebelah timur warung. Lelaki itu tampak heran memandang saya. Bertanya-tanya siapa gerangan. Belum bisa menebaknya.

“Oalaah…awakmu to, Pit.” teriaknya selepas saya membuka helm dan slayer penutup hidung. Saya pun disambut dengan ramah dan jabat tangan.

Lahir 8 Desember 1981. Lelaki itu berperawakan tinggi, tegap, berambut cepak dan berkulit sawo matang. Akrab dipanggil Nanang. Selain penjual sate, Nanang pun salah seorang pendiri dan pengurus Paguyuban Reggae Pare. Sembari minum kopi dan menyulut sebatang rokok kami larut dalam obrolan santai.

“Mulai kapan mas warung ini buka?” tanya saya memulai percakapan.

“Warung ini buka awal puasa kemarin. Tepatnya puasa H ke 3” jelasnya tenang

“Bisa sampeyan ceritakan pertama kali merintis warung ini?”

“Pertama kali warung ini buka memang pahit rasanya, Pit. Sedih. Bahkan perih. Sampai HP, kasur kobong kok ha..ha..ha..” ingatnya getir

“Ya…namanya juga orang baru babad. Apalagi tidak ada bantuan sama sekali dari keluarga. Cuma mak sekadar membantu jualan. Mbah memang memberi doa restu, tapi tidak bisa lebih banyak seperti materi atau apalah. Dadine warunge seh koyo ngene. Dan modal itu pun aku pinjam dari teman yang kuanggap seperti saudaraku sendiri”.

“Modal pertama yang aku punya waktu itu cuma satu juta seratus ribu. Pertama, aku gunakan untuk memesan banner seratus lima puluh ribu, tujuh ratus ribu untuk piring dan perlengkapan jualan, sisa dua ratus ribu untuk pengikat kontrakan warung. Kambing masih hutang.”

“Dan orang yang berperan penuh membantuku adalah mas Todik. Pokok wes tak anggep koyo masku dewelah. Selalu memberi semangat dan dorongan kepadaku. Bahkan, dulu pernah selama dua bulan aku tidak bekerja sama sekali. Aku dibantu olehnya. Dikasih uang,”iki ngge bojomu ben ra rame” katanya”

“Walaupun dia bukan siapa-siapaku, bukan pula karena masalah dia memberi materi, namun bagiku mas Todik adalah motivator. Aku pun terkadang kalau share selalu berdua. Dia berharap lebih kepada saya”

Obrolan kami terhenti sejenak ketika berhenti sebuah mobil di depan kami. Serom- bongan keluarga keluar dari dalam mobil.

“Ijek ra satene?” tanya seorang lelaki pengendara mobil tersebut.

“Ijek…Sek Pit tak tinggal mbakar sek”

“O, yo mas…sante we” jawab saya

Nanang pun langsung mempersiapkan pembakaran. Membumbui sate. Kemudian membakarnya. Asap mulai mengepul dan menyeruak tersapu ayunan kipas. Menghampiri setiap hidung orang-orang yang berada di sekitarnya juga orang yang berlalu-lalang di jalanan. Bau sedap sate yang terbakar seakan menggoda untuk mencicipnya.

Kemampuan Nanang dalam meracik sate dan meramu gule memang tak bisa lepas dari peran kakek – mbah Slamet pemilik Depot Sate Tenang. Didikan keras dari sang kakek ia rasakan sebagai proses belajar yang sangat berarti. Mewujudkan mimpi yang besar tentu tak semudah membalik telapak tangan. Begitu pun dengan berdirinya Depot Sate Tenang di jalan Kandangan yang sudah 43 tahun eksis berjualan sate ini. Bertahan dan masih diburu banyak orang. Bahkan beberapa orang penting, seperti pejabat, seniman, dan pemain sepak bola menyempatkan diri mampir ke depot Tenang bila sedang melewati Pare. Hingga akhirnya cita rasa depot ini sudah menjadi legenda kuliner tersendiri di Pare.

Sama seperti Nanang, awal mula mbah Slamet jualan sate juga merasakan pahit getir dalam setiap usaha, bahkan lebih. Suwarti anak perempuannya – ibunya Nanang – tahu betul perjuangan bapaknya tersebut. Ia setia menemani bapaknya dalam merintis jualan sate.

Sak durunge bakulan bapak mbiyen melu wong, mas” terangnya kepada saya. “Bapak ikut mbah Majid Jumali. Depot sate Jumali yang letaknya di pasar Pare itu”

“Akhirnya bapak di situ diberi kepercayaan untuk mengolah kambing. Di situ bapak bekerja selama dua tahun. Jenenge wae buruh, yo mas yo…di situ bapak hidupnya masih susah. Saya saja ditidurkan di bawah meja gerobak jualan.” kenang Suwarti.

Mbah Slamet memang tipikal seorang pekerja keras dan tak mudah putus asa. Dulu semasa muda selama ikut mbah Jumali ia selalu bangun pagi. Yang dikerjakannya setelah bangun tidur adalah korah-korah, bersih-bersih, dan menyembelih kambing. Sampai akhirnya suatu ketika dia terbuka pikirannya untuk jualan sate sendiri. Setelah peristiwa Gestapu tahun 1966, mbah Slamet mulai jualan sate sambil mikul turut jalan saban hari. Karena ada sedikit kendala mbah Slamet sempat berhenti jualan. Kemudian mulai jualan lagi pada tahun 1971.

Saat itu mbah Slamet mengontrak sebuah rumah di Puncak Jaya (rumah itu sekarang dimiliki mbah Slamet dan dibuat usaha warnet oleh anaknya). Dan itu pun hanya mampu mengontrak satu kamar. Pada waktu itu, untuk jualan sate saja, ia hanya mampu membeli paha daging kambing. Ia jualan sate dengan rombong kuali yang dipikul keliling Pare mulai jam enam sore sampai malam. Dari pasar lama, terus ke pos polisi kemudian menelusur jalan Kandangan dan berhenti di Tangsi – depan Corah.

“Kalau mengingat waktu itu begitu menyedihkan, mas. Saya merasa kasihan kepada bapak. Bila waktu jualan kurang nasi atau ada kurang yang lain, saya selalu menyusul bapak sambil menggendong rinjing untuk mengantar nasi. Kondisi jalannya begitu gelap sekali dan terasa angker”, jelas Suwarti.

Raut mukanya tampak sedih mengenang masa-masa sulit itu. Katup matanya berair. Namun, ia mencoba menahan tangisnya. Saya pun hikmat menyimak setiap detil kisahnya.

Lha ndelalahe mas yo, liku-likune wong nek ra nduwe, mas yodiapusi wong. Saat jualan sudah lancar setapak demi setapak, tiba-tiba ada orang yang mengacau. Biasanya gule kan warnanya kuning, suatu ketika bapak ditegur sama pak kaji Jaumuri namanya. Met, Slamet…gulemu kok raiso abang to, Met. Opo nek mu masak piye? Mbok njajal weneono sombo(pewarna makanan), ujarnya menirukan

“Entah kenapa akhirnya bapak manut saja. Gule dikasih sombo. Akhirnya, mas…”, lenguhnya panjang, “dodolane bapakku sewengi kui ora payu. Utuh mengkeluh ra enek sing tuku. Sampai di rumah bapak nelangsa, sedih, nangis apalagi basah kehujanan. Semua orang di rumah menangis. Semua bingung apakah besok bisa jualan lagi atau tidak” ungkap  Suwarti dengan nada miris.

“Besoknya, ya mas…tempat nasi dan beberapa piring dijual untuk modal jualan sate lagi. Bapak pun kemudian ditolong seseorang. Bapak dibantu tempat jualan di depan hotel Amanda. Bapak mulai lagi jualan sate di situ. Bukanya setiap jam setengah satu siang. Semenjak itu jualan mulai berjalan mulus. Walau kadang-kadang sedikit ganjalan juga ada.”

Tahun berganti tahun. Cobaan demi cobaan dilalui mbah Slamet tanpa putus asa. Prinsip hidupnya sederhana; hadapi semua dengan tenang. Alhasil, usaha Depot Sate Tenang milik mbah Slamet mulai lancar dan berkembang pesat. Dari sinilah Nanang muda mulai belajar dan dididik sang kakek dalam mengolah kambing. Sang kakek pun berwejang,

“Suatu saat kau harus jualan sendiri!”

Saya masih duduk termenung sambil mencatat hal-hal penting yang saya tangkap dari obrolan kami berdua. Saya pun asyik masyuk berceloteh dengan Danang – musisi reggae Pare – sembari minum kopi dan mengisab rokok. Dia baru datang beberapa menit lalu. Nanang sendiri masih terlihat sibuk membakar sate. Sedang ibunya menyiapkan hidangan nasi gule untuk pembeli yang baru saja datang.

Selang beberapa menit kemudian saya terkejut ketika disuguhi nasi gule campur. Saya merasa tak enak hati. Niat hati sekadar meliput kuliner. Namun, akhirnya saya tak kuasa menolak rejeki yang tiba.

“Wes ndang disambi, Pit. Ndang, Nang” teriaknya sama saya dan Danang

“Walaah, mas…kok repot-repot to” jawab saya sungkan

“Gak po-po. Ben ngerti rasane”

Tanpa basa-basi lagi saya langsung mencicip nasi gule campur yang disuguhkan. Dan perlu diketahui, saya tak sepandai dan sedetil laiknya reporter kuliner di televisi-televisi yang mampu mengeksplor rasa sebuah masakan dengan jelas dan baik. Saya hanya bisa mengatakan bahwa hidangan di warung Rastaman ini memang nikmat dan sedap. Pantas masuk dalam catatan perjalanan kuliner anda di Pare. Saya pun hanya bisa berseru: Anda wajib mencobanya!

Harga tiap menu di warung ini standart dan ekonomis. Tidak terlalu menguras kocek anda. Satu porsi sate seharga 16.000 rupiah, gule 10.000 rupiah dan nasi campurnya 8.000 rupiah.

Selain itu, Nanang sendiri mempunyai mimpi besar dan pendirian yang teguh. Ia ingin membangun dan memajukan kota Pare ini. Ia ingat jelas wejangan sang kakek. Jangan pernah meninggalkan budaya jawa. Itulah mengapa ia tidak mau meninggalkan Pare. Ia ingin tinggal selamanya, berkiprah dan berkreativitas di Pare.

“Kalau semua generasi mudanya meninggalkan Pare, lalu siapa yang akan membangunnya?” ungkap Nanang

Saya tertegun sejenak. Saya menangkap makna yang begitu dalam dari perkataannya. Saya sendiri pun menyadari bahwa Pare mempunyai banyak pesona dan potensi yang masih belum sepenuhnya dimunculkan. Walaupun lingkupnya kecil namun Pare mampu berkembang menjadi lebih besar. Tinggal bagaimana generasi mudanya menyikapi kondisi ini.

Selesai menyantap nasi gule campur tadi, saya pun mulai bertanya lagi.

“Mas, iso sampeyan ceritakne pengalaman sampeyan pas jek melu mbah Slamet?”

Aku melu mbah kui mulai tahun 1992 sampek 2009, Pit”, terangnya, “Merasakan getir pahitnya dimarahi, diejek, dan dipisuhi. Pernah juga aku mogok kerja, tidak masuk seminggu, bahkan sempat mau keluar. Namanya juga masih anak muda, yo to…” terangnya

Pernah suatu kali sang kakek kecewa bahkan sangat marah sama Nanang ketika mendengar cucunya tersebut bekerja di salah satu diskotik di Kediri. Kebetulan juga waktu itu istrinya Nanang sedang hamil muda. Nanang pun langsung disuruh pulang sama sang kakek. Disuruhnya Nanang kembali membantu di warung.

Trus aku mbalek kerjo nek warung, Pit. Kalau pagi itu sudah mulai membantu menyembelih, mbeteti, mencuci jeroan, sampai membuat sate, kabeh tak tandangi. Setiap hari selama satu minggu itu mbah selalu nggremengi aku. Suka marah-marah lah”

Nanang memang paling takut sama kakek. Apapun permintaan dan saran kakeknya selalu ia penuhi. Entah itu benar atau salah tapi alhasil pikiran Nanang semakin terbuka dan dewasa.

“Di antara saudara-saudaraku, yang paling sering dipecuti sama mbah itu aku terus, Pit. Tapi sekarang aku bisa berfikir, Ooo…ternyata omongannya mbah itu benar. Aku dipecuti sama mbah itu bukan karena mbah benci sama aku, melainkan mbah ingin menurunkan ilmunya ke aku. Cuma itu saja prinsipku. Jadi setiap hari walaupun sering dimarahi itu sudah aku anggap hal yang biasa”, ujarnya santai.

Puncak dari kematangan berpikirnya ketika ia memutuskan untuk membuka warung sate sendiri.

“Salah satu hal yang mendorong aku ingin membuka warung sendiri karena aku memang sering disepelekan. Bahkan keluargaku memandang; Nanang lho opo iso dodolan sate dewe?. Lak yo wes to ngono kui, Pit”, saya pun merasakan nada getir di kalimatnya yang terakhir itu.

Melihat hal itu Nanang semakin berusaha keras membuktikan bahwa dia mampu jualan sendiri. Nanang pun diberi semangat oleh seseorang yang akrab dia sapa mas Todik. Selain meminta saran dari mas Todik, Nanang juga membujuk Mak untuk membantunya jualan. Mak pun akhirnya setuju. Semakin mantablah hati Nanang.

Todik baru mengenal Nanang dengan akrab sekitar satu tahun belakangan ini. Kalau sama keluarga besar mbah Slamet Todik sudah akrab sebelumnya. Pertama, mereka berdua memang sebatas teman biasa. Hingga akhirnya mereka menjadi karib. Waktu itu Nanang pernah share berdua dengannya. Nanang mengutarakan keluh kesahnya kepada Todik bahwa ia ingin mandiri. Todik menyimak segala keluhan-keluhannya.

“Saya kemudian moncoba membuktikan benar nggak dia mampu untuk berkembang sendiri? Saya korek lebih jauh. Saya cari tahu berapa lama pengalamannya, baik motong, masaknya, atau membuat satenya. Nanang memang banyak cerita tentang kemampuannya. Namun, waktu itu saya belum percaya langsung. Kemudian saya cari informasi dari kakaknya. Dijawab, oya memang Nanang sudah cukup berpengalaman” jelas Todik

Dari situlah Todik mulai membantunya. Menurut Todik Nanang waktu itu belum berani untuk bangkit sendiri karena selama ini ikut mbahnya terus. Dia pun tak putus memberi motivasi kepada Nanang.

“Sak enak-enake wong, paling enak dadi juragan. Ben sak cilik-cilik o usahane. Sak gedhe-gedhene awake dewe kerjo nggone wong, tapi awake dewe tetep dadi babune”

Itulah salah satu motivasi yang pernah diberikan ke Nanang. Akhirnya, Nanang pun bangkit. Bersemangat. Semakin mantab pada keputusan dan pilihannya. Dan Todik mulai membantu ala kadarnya.

“Tidak cuma Nanang, saya ingin semua teman-teman saya bisa mandiri. Karena kalau kita berteman dan sama-sama berwirausaha itu kan enak, mas. Bisa saling tolong menolong. Kalau sedang kumpul pun tidak ada rasa sungkan. Saya pribadi berprinsip bagaimana saya bisa memotivasi teman saya. Karena suatu saat saya pun butuh bantuannya. Saya senang kalau melihat teman saya sukses. Bila suatu saat kita kesusahan – bukan bermaksud pamrih – mereka bisa ganti membantu atau memotivasi kita. Memberikan dukungan. Bukan hanya dalam hal materi saja tentunya. Kalau masalah materi itu nomor dua” ujar Todik

Todik pribadi sangat senang bila melihat temannya yang dulu urakan bisa berubah dan membuktikan dirinya menjadi lebih baik. Jadi masyarakat bisa tersadar dan menilai bahwa tidak selamanya orang seperti itu selalu buruk. Dan mimpi paling utamanya juga sama dengan Nanang.

“Ayo kita membangun kota Pare ini. Ini tanah kelahiran kita. Bagaimana supaya bisa megah. Kalau bisa kitalah yang menjadi pionernya. Jangan sampai orang lain. Mulai dari seni, budaya, sosial, wirausaha atau apapunlah…”

Setelah mantab dan yakin dengan pilihan dan keputusannya, Nanang pun mulai sibuk mencari-cari tempat yang pas untuk jualan.

“Saya memilih jualan di sini karena waktu itu sedang ngopi di jalan Kediri. Tepatnya ya di warung ini. Kemudian saya berpandangan kok enak sekali suasananya. Akhirnya, saya bilang sama pemilik warung untuk mengkontraknya karena tahu penjual kopi ini tidak akan meneruskan jualannya”

Setelah dipertimbangkan secara matang, Nanang pun segera meminta doa restu sang kakek. Ia ingin mengutarakan maksudnya untuk membuka warung sate sendiri.

“Dimana kamu jualan?”, tanya sang kakek

“Di Pare, mbah”, jawab Nanang. Kakeknya kemudian berpikir

“Di Pare sebelah mana?”

“Jalan Kediri”

“Oyo,le…” jawab kakek merestui, “Tapi kalau di Pare apa kamu akan tetap memakai namanya mbah; Depot Sate Tenang pak Slamet?”

“Lho kalau tidak boleh juga tidak apa-apa, mbah. Saya sudah punya nama sendiri”

“Depotmu namanya apa?”

“Warung mbah bukan depot. Saya tidak mau memakai nama depot.”

Nanang memang tidak mau menamai tempat jualan satenya dengan depot. Ia lebih memilih menyebutnya warung. Alasannya sederhana. Bagi Nanang warung itu adalah tempatnya orang santai. Menikmati makanan sambil ngobrol-ngobrol. Lebih merakyat dan tidak terkesan eksklusif.

“Kalau depot itu kan kesannya orang datang ke situ sekadar makan lalu pulang. Nah, kalau warung, kita kan bisa cangkruk sambil ngobrol-ngobrol dan mencari teman. Dasare aku kan yo seneng cangkruk to, Pit hahahhaha….”, kami pun tertawa lepas dan benar-benar larut dalam suasana malam. Saya mulai meyuruput sisa kopi yang sudah mendingin. Mengambil sebatang rokok. Kemudian menyulutnya.

Bukan karena kebetulan Nanang memasukkan unsur reggae ke dalam warungnya. Dia membawa unsur reggae karena jatuh dari reggae dan ingin bangun dari reggae.

“Aku mulai jatuh itu saat berdirinya Paguyuban Reggae Pare. Aku sudah tidak punya apa-apa. Tabungan sudah habis, bahkan motor sampai aku gadaikan untuk event-event reggae yang kemaren diselenggarakan. Sampai mbahku kemudian marah dan tidak mau ngomong sama aku. Dan aku mengakui itu murni kesalahanku. Walaupun dalam acara itu bukan aku sendiri yang menanggung. Dan yang perlu dicatat, aku tidak menyalahkan teman-teman yang lain atau menuntut minta ganti apa yang sudah aku keluarkan. Tidak sama sekali. Justru ini menjadi salah satu semangat mendirikan warung ini”

“Kalau nama Rastaman ini bagaimana asal-muasalnya, mas?”

“Nama Rastaman ini idenya dari temanku. Namanya mas Agus. Orang Bendo yang beristri orang Australia itu, tahu kan?”, saya mengangguk pelan.

“Waktu itu dia melihat motorku Binter Mercy ini. Di slebor tengah ada tulisan One Love Rastaman. Kemudian mas Agus itu menyeletuk;

“Kamu tahu apa artinya itu, Nang?”

“Wah nggak ngerti, mas” jawabku waktu itu.

“Kalau One Love tahu kan?”

“Tahu mas, satu cinta” jawabku

“Kalau Rastaman?”

“Ra ngerti aku, mas”

“Lha awakmu iki wong reggae kok ra ngerti!” katanya memarahiku

“Itu artinya RASA TETAP NYAMAN hahahhaha….” jawab mas Agus

“Wah, masuk itu mas. Oke kui…

“Semenjak itu, Pit,  aku  berangan-angan – dua tahun yang lalu tepatnya – ingin punya warung dengan nama RASTAMAN”

Jam menujuk pukul 20.15 WIB. Nanang dan pekerjanya mulai berkemas menutup warung. Jualannya telah habis. Saya pun menghabiskan sisa kopi yang telah lama mendingin dan mengemasi semua perlengkapan wawancara tadi ke dalam rangsel butut.

Tak lupa saya juga berterima kasih atas segala suguhan yang diberikan. Saya pun pamit pulang.

(A Iwan Kapit,  Penulis tinggal di Pare. Pemerhati dan penikmat budaya lokal.)

h1

Susie, Pecel Tumpang, dan Secuil Mimpi

October 13, 2009

Malam itu tepat ba’da adzan isya saya datang ke lesehan pecel tumpang Susie yang berada di jalan Pahlawan Kusuma Bangsa Pare. Lesehan itu tampak sederhana sekali. Letaknya berderet dan berjejar dengan warung-warung lain yang juga menawarkan menu santapan khas kaki lima. Tak begitu sulit menemukan warung ini. Bilamana anda warga Pare ataupun pendatang yang baru saja berinjak kaki di Pare, tak tahu-menahu nama jalan, cukuplah mencari tahu atau bertanya di mana keberadaan masjid An-Nur Pare yang berdiri megah itu dengan menaranya yang tinggi putih menjulang ke atas. Nah, kalau sudah ketemu, anda tinggal menelusur ke arah barat. Tengoklah sisi selatan jalan. Lesehan ini berada di deretan pertama(bilamana anda dari arah timur). Dari situ sudah bisa terbaca dengan jelas “Lesehan Susie” yang terpampang di sebuah spanduk kuning tua. Pecel tumpang pincuk – menu utama lesehan ini.

“Bu, Sus…”, sapa saya

“Hey, mari masuk. Sebelah sini lebih enak ngobrolnya”, sambutnya ramah

Saya pun langsung duduk di ujung barat meja. Persis di depan penganan yang tertata rapi dan menggugah lidah untuk mencicip. Memang beberapa hari sebelumnya saya sudah janjian dengan bu Sus untuk wawancara. Saya katakan kepadanya bahwa saya ingin membuat catatan tentang kuliner Pare dan wilayah sekitarnya; yang sampai hari ini – sepanjang yang saya tahu – belum pernah ada yang menuliskannya sebagai dokumentasi sejarah masa depan. Hal ini pun menjadi ikhtiar awal untuk memulai mengendus dan mendokumentasikan jejak-jejak budaya di Pare yang (mungkin) semakin teraleniasi, masih bertahan, atau bermetamorfosis menjadi budaya baru seiring dengan perubahan yang begitu cepat di masyarakatnya.

Lesehan masih terlihat sepi malam itu. Belum banyak pengunjung yang datang. Hanya beberapa anak muda yang sedang makan nasi pecel dan sekadar nongkrong sambil ngopi dan rokok’an. Seperti biasa setiap kali jualan bu Sus hanya ditemani anaknya; Lulus. Niat hati ingin memesan segelas jahe hangat sebagai teman wawancara, namun belum sempat berucap saya pun langsung disuguhi dengan segelas kopi susu.

“Bu Sus, bisa sampeyan ceritakan awal mulanya jualan nasi pecel tumpang?” tanya saya memulai

“Ya, jadi begini mas, awalnya sebelum saya jualan nasi pecel tumpang, saya jualan sayur. Kemudian sama suami, saya ditawari kamu mau jualan nasi. Saya tanya, jualan dimana? Suami saya menjawab di depan taman makam pahlawan. Seberang rumah sakit Amelia itu. Waktu itu saya berpikir sejenak. Menimbang-nimbang keputusan. Akhirnya, saya setuju untuk jualan di sana.”

“Itu tahun berapa, bu?”

“Saya masih ingat betul pertama kali jualan itu mas, tanggal 2 Agustus 2000” jawab perempuan yang punya nama lengkap Lusi Susanti ini.

“Waktu pertama kali jualan itu bagaimana?”

“Awalnya tidak seperti ini mas. Saya belum jualan banyak seperti ini. Hanya nasi pecel tumpang dan minuman saja. Namanya juga masih babat alas ya mas, pasti ada saja halangannya. Dulu itu waktu saya jualan sering kali dirusuhi. Maksudnya sepulang dari jualan kan segala perabot hanya ditaruh di belakang taman itu,cuma ditutup rapat asal tidak terlihat dari jalan saja. Saya sering kali kecolongan. Mulai gelas, piring, pokok perabot-perabot jualan. Tapi saya biarkan saja. Saya cuma berpikir mungkin ini cobone wong golek rejeki. Ben sing kuoso sing mbales” katanya sambil tersenyum.

Tak berapa lama kami mengobrol ada pengunjung yang datang. Dua orang remaja. Mereka memesan nasi pecel tumpang. Bu Sus pun langsung melayani. Terlihat mereka begitu menikmatinya. Sesekali satu di antara remaja itu mengambil bakwan sebagai lauk tambahan. Lulus yang sedari tadi pergi setelah membuatkan saya kopi susu segera kembali. Melaksanakan tugasnya sebagai pembuat minum. Saya pun berhenti sejenak. Menikmati kopi susu yang disuguhkan sedari tadi.

Pecel – Tumpang. Dua jenis santapan yang berbeda namun satu keterpaduan dan saling melengkapi. Santapan ini begitu familiar sekali bagi masyarakat Pare. Hampir setiap warung-warung atau lesehan-lesahan yang buka pagi, siang, sore, malam, atau dini hari sekali pun umumnya menyuguhkan santapan ini. Hal ini sudah menjadi budaya bahkan karakter kuliner yang paling sering dinikmati warga. Sederhana. Bercita rasa.

Belum pernah ada sejarah tertulis – sepanjang yang saya tahu – yang menerangkan dengan jelas asal muasal pecel – tumpang di Pare. Bahkan dalam bukunya Mojokuto, antropolog Amerika Clifford Geertz yang pernah melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa sekira tahun 1960-an di Pare ini tidak menerangkan dengan detil. Yang pasti santapan ini sudah ada sejak nenek saya masih belum menikah(yang kebetulan saya sempat bertanya ke nenek saya). Maka jangan heran bila di setiap sudut Pare mudah sekali ditemui para penjual nasi pecel tumpang.

Tak begitu sulit membuatnya sebab bahan-bahannya sangat merakyat sekali. Jikalau pecel berbahan dasar kacang tanah sedang tumpang lebih ke perpaduan tempe waras dan tempe bosok yang diracik dengan cabe rawit dan cabe besar dengan rempah-rempah lainnya. Namun, cita rasa yang dihasilkan akan berbeda antara satu tangan dengan tangan yang lain. Antara warung lesehan yang satu dengan yang lainnya. Begitulah. Masing-masing akan mempunyai karakter rasa yang khas.

Demikian halnya dengan lesehan Susie. Bilamana anda mampir ke lesehan ini dan mencicip sepincuk nasi pecel tumpang yang disuguhkan, segera anda bisa membedakan karakter rasa pecel tumpangnya dengan warung lesehan lain di Pare. Tidak begitu mahal. Sepincuk nasi pecel tumpang di lesehan ini hanya seharga tiga ribu rupiah.

Malam semakin beranjak. Pengunjung pun mulai ramai berdatangan. Bu Sus semakin sibuk melayani. Saya masih belum berpindah tempat duduk. Sembari menulis hal-hal yang kami bicarakan tadi. Dan sesekali meminum kopi susu yang mulai mendingin. Mengeluarkan sebatang rokok lalu menyulutnya.

“Bu Sus, lesehan ini biasanya buka dari jam berapa sampai jam berapa?” tanya saya kembali

“Kalau persiapan itu jam lima sore, mas. Setelah magrib mulai jualan sampai malam jam dua belas.”

“Setiap hari berapa kilo nasi yang dimasak, bu?”

“Tidak pasti. Tapi kalau dirata-rata kurang lebih 10 Kg setiap harinya. Seperti kemaren itu, saya sampai menanak dua kali saking ramenya” jawabnya sambil tersenyum

“Pernah sampai tidak habis bu jualannya?”

“Ya pernah, mas”

“Kalau tidak habis, nasinya itu dibuang atau dibagi-bagikan?”

“Biasanya dibagikan, namun kadang-kadang juga kalau sisa nasinya banyak itu dibuat krupuk puli,mas”

“Kalau kulupan dan lalapannya tidak habis?”

“Kalau itu dibuang, mas. Soalnya kan tidak tahan lama.”

Saya kembali diam sejenak. Menghisab rokok yang tadi sudah tersulut sambil meminum kopi susu yang sudah dingin. Mencatat pembicaraan kami. Namun para pengunjung masih tampak menikmati santapannya sambil mengobrol dengan santai. Sesekali terdengar riuh gelak tawa di antaranya. Saya melihat jam. Sungguh tak terasa sudah hampir jam sepuluh malam. Saya pun bersiap untuk mengakhiri wawancara.

“Selama tujuh tahun jualan nasi pecel tumpang, njenengan punya mimpi atau harapan apa, bu?”

“Maksudnya”

“Maksud saya satu keinginan besar yang mungkin sampai hari ini masih belum terwujud”

“Wah banyak, mas. Kalau adiknya Lulus yang sekarang masih sekolah itu minta ingin dikuliahkan. Ya, mudah-mudahan saya diberi rejeki yang banyak, warungnya lancar dan bisa mengkuliahkan anak saya itu. Lulus sendiri maunya meneruskan jualan ini saja. Dia tidak berminat untuk melanjutkan sekolahnya. Namun, selama ini sejujurnya saya mengidamkan ingin membangun rumah sendiri”

Saya terkagum mendengar jawaban seorang perempuan sederhana yang sudah berusia kepala empat itu. Di sebalik pekerjaannya sebagai penjual nasi pecel tumpang, serta senyum ramahnya yang membuat pengunjung nyaman, terselip secuil mimpi yang berarti untuk diri dan keluarganya.

Jam menunjuk pukul setengah sebelas malam. Kopi susu yang sedari tadi mendingin telah habis terminum. Saya pun mengakhiri perbincangan dan berpamitan pulang. Banyak hal yang saya dapat dari obrolan selama empat jam tersebut.

Sekali lagi pecel tumpang tak hanya sebuah santapan pengenyang perut belaka. Ia juga produk budaya yang sayang sekali bila kita biarkan merana. Karena tak ada yang tahu, dua puluh tahun ke depan apakah ia masih menjadi kuliner yang sering dinikmati atau justru semakin tersisih dan langka.

*) A. Iwan Kapit, Penulis tinggal di Pare, penikmat budaya lokal.