MENCARI SEBUAH IDENTITAS DALAM BUDAYA POP

Posted: December 4, 2007 by mbah admin in Gaya hidup
Tags: , , ,

metropole083.jpgIdentitas dapat dilihat sebagai sebuah medan perang, tempat pertempuran, daerah konflik atau medan dialog, identitas tersebut dibangun, diperebutkan, dipertentangkan, diubah, dipengaruhi, dilupakan atau ditinggalkan di dalam sebuah wacana. Identitas dalam sebuah masyarakat diingat, digali, dikumpulkan, diceritakan kembali atau malah dikubur, dilupakan dan dihapus dari pikiran kolektif. Identitas ditafsirkan sebagai sebuah budaya milik bersama, dimiliki secara bersama-sama oleh orang yang memiliki sejarah dan asal-usul yang sama. Identitas menjadi rantai perubahan secara terus menerus, sebagai bentuk pelestarian masa lalu atau warisan budaya(primordial), dan sebagai bentuk transformasi dan perubahan masa depan(kreativitas perubahan budaya). Identitas digunakan untuk menjelaskan berbagai cara kita diposisikan dan sekaligus memposisikan diri kita secara aktif dalam narasi sejarah.

Identitas akan selalu mengalami perubahan, pada kadar sekecil apapun sesuai dengan perubahan sejarah dan kebudayaan. Percepatan tempo kehidupan dalam masyarakat pascaindustri, serta percepatan pergantian tanda, citra, makna, kode dan tafsiran simbolik, yang menggiring ke dalam kondisi yang di sebut kondisi ekstase kecepatan, sebuah kondisi ketika manusia hanyut / tenggelam dalam arus kecepatan (perubahan/pergantian tanda, citra, makna), sehingga tidak mampu menyerap dan mengendapkan segala perubahan menjadi sesuatu yang bermakna.

Identitas pascamodern adalah sesuatu yang bisa diterima, dirayakan, diadopsi, akan tetapi bisa juga ditentang, disangkal atau ditolak dalam sebuah wacana. Ada 3 wacana identitas pascamodern yaitu:
1. Wacana geopolitik: konsep Negara-bangsa, menjadikan wahana nation- state sebagai sebuah perekat identitas.
2. Wacana sosio ekonomi: konsep system ekonomi khususnya ekonomi kapitalis global (percepatan perubahan identitas yang menggiring pada berbagai paradoks identitas)
3. Wacana kultur-spiritual: kehidupan keberagamaan dan spiritualitas, bagaimana identitas dipertahankan, dipelihara, dan dilestarikan lewat berbagai institusi keagamaan, moral dan kultural.

Globalisasi ekonomi memberikan identitas baru kepada masyarakat yaitu sebuah budaya konsumerisme, yang telah menggiring masyarakat kearah sebuah bentuk kehidupan budaya baru, yang dicirikan semakin terpusatnya kehidupan masyarakat pada dunia konsumsi, semakin terpusatnya kehidupan pada dunia obyek (material culture), semakin tersegmentasinya masyarakat ke dalam berbagai kelompok gaya hidup, semakin terdiferensiasikanya budaya ke dalam subbudaya, semakin tingginya tempo kehidupan sebagai akibat cepatnya tempo pergantian kode, tanda, dan makna budaya.

Budaya konsumerisme sebagai sesuatu yang mengalir, bergerak, dan berubah tanpa perlu mengikatkan diri atau terpancang pada sebuah pondasi yang tetap (ideology, kepercayaan, pengetahuan). Dunia konsumerisme membentuk sebuah ruang sosial, yang di dalamnya para konsumer dikonstruksi kehidupan sosialnya, sehingga ia mengikuti arus perubahan tanda, makna, citra dan identitas yang mengalir tanpa henti. Identitas personal dikonstruksi oleh pihak lain (produsen) dengan cara yang sangat agresif dan seduktif (menggiurkan). Produsen menciptakan “ilusi kebebasan” memilih beragam identitas lewat produk dan komoditi, yang sudah diatur temponya secara sistematis oleh produsen. Dunia konsumerisme menjadi sebuah dunia permainan gaya, image, citra, lifestyle, yang bersifat material, imanen (tetap ada) dan sekuler ( yang bersifat duniawi) yang tidak menyediakan ruang bagi “pencerahan jiwa”.

Di dalam dunia ketelanjangan kapitalisme, tubuh menjadi semacam titik sentral dari aktivitas ekonomi. Tubuh tidak saja dijadikan sebagai komoditi, akan tetapi digunakan pula sebagai komoditi untuk menjual komoditi, tubuh sebagai iklan berjalan.

Masyarakat konsumer menciptakan gaya hidup yang dikendalikan oleh sifat “kesementaraan” atau “kesesaatan” dalam segala hal (kesementaraan citra, tanda, makna, identitas dan ideology). Kita dikondisikan untuk melihat masa kini sebagai sesuatu yang bersifat temporer ( harapan besok ada perbedaan baru). Gejala ini disebut sebagai “epilepsy culture” rangkaian hasrat, citra, dan kejutan yang datang dan pergi dengan kecepatan tinggi, telah menyedot hampir setiap energi manusia hanya untuk “dunia materi/dunia penampakan” dan tidak menyisakan untuk “tamasya spiritual”.

Masyarakat masuk dalam perangkap “skizofrenia” bukan dalam pengertian “sakit jiwa” Sigmund freud, Akan tetapi sebagai sebuah gerakan pembebasan diri dari berbagai aturan keluarga, masyarakat, bahasa, Negara, bahkan agama, dalam rangka melepaskan segala sesuatu yang bersifat non-human pada diri manusia
( keinginan, kekuatan, transformasi, dan mutasinya). Yang menciptakan semacam politik “hasrat” menghancurkan segala bentuk penekanan dan setiap model normalitas yang ada di masyarakat.

Pada era 70an, seperti gerakan feminisme, gerakan subculture (hippies, punk, skin-head, metal dsb) menjadi sebuah tantangan bagi kehidupan beragama, karena prinsip gerakan kultural adalah “memperebutkan identias”. Subkultur adalah sebuah cara merebut dan membangun identitas budaya dalam bingkai ideology yang baru, yang lebih tepat disebut sebagai sebuah gerakan budaya, ketimbang gerakan sosial politik.
Sebuah gerakan budaya, dalam upaya mengekpresikan diri kelompok dan identitasnya, mereka sangat mengandalkan diri pada dunia komunikasi, tanda dan gaya. Subkultur adalah sebuah cara untuk mengkomunikasikan perbedaan dan sekaligus identitas kelompok, lewat tontonan gaya dan tanda (pakaian, aksesori, kendaraan, dsb). Sesuatu yang bersifat semiotic ( tanda dan makna).

Kita sekarang sedang mencari sebuah identitas di dalam hiruk pikuknya dunia modern, mencoba membangun sebuah identitas didalam menjalankan titah kita sebagai manusia, sebuah usaha yang akan amat sangat menyita tenaga dan pikiran. Berangkat dari sebuah kemauan yang keras akan sebuah keberhasilan, sebuah mimpi panjang yang Insya Allah menjadi sebuah kenyataan yang mampu memberikan kita penghidupan yang layak. Dengan kerja keras dan saling menghormati kelebihan dan kekurangan pada masing-masing pribadi kita, maka tidak ada yang tidak mungkin terjadi, karena Allah sudah memberikan kita sebuah hak yang pasti berupa “kreativitas dan rencana”. Dan mungkin akan selalu ada di benak kita kalimat “when I grow up I want to be a trademark”.
semoga bung, Amin.

Wassalam.
sonny b’doors

*to have inspirated by:
•Yasraf Amir Piliang, “Dunia Yang Dilipat : Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan”.
•Stuart Hall, “Cultural Identity and Diaspora”
•John H. Marx, “The Ideology Construction of Postmodern Identity Models in Contemporary Cultural Movements”
•Jurgen Habernas, “The Philosophical Discourse of Modernity”
•Paul Virilio, “ The Aesthetics of Disappearance, Semiotext(e)”
•Arthur Kroker & David Cook, “The Postmodern Scene: Excremental Culture and Hyper-Aesthetic”.
•Dick Hebdige, “Subculture: The Meaning of Style”

Comments
  1. mbeloer says:

    Met taun baruan , piye acara kawinane Tumis, iso gawe ajang ngumpul gak ?

  2. sonny bdoors says:

    buat mas jirenk tersayang…hehehe…begini mas jireng, soal artikel “mencari identitas….” sebenarnya itu salah satu media untuk menjaring lebih bnyk lg orang utk melihat bloger parekita. jadi semakin bnyk artikel yg ada di bloger parekita semakin bnyk pula tingkat kunjungannya..kl tingkat kunjungan smkn tinggi ada harapan iklan akan masuk jg..kl iklan masuk berarti ada pemasukan jg bt parekita. mas jireng, jaman skrng bloger sdh bs mnjd media untk mendatangkan fulus..ya gk ada salahnya kl kita mencoba..kan akhirnya utk kita2 jg..dan akhirnya seperti kata orang2 sosialis “sama rata-sama rasa”..hehehe

  3. mbah admin says:

    piye pak dokter ?..enek materi artikel sing apik?
    Opo ngene ae….sopo sing duwe pertanyaan diajukno ae nang pak dokter, trus ngko ben dijawab.
    Mbah yo nduwe pertanyaan, misale :
    “Pak dokter, bgmn cara mempertahankan gairah hubungan suami-istri? Ben tetep greng ngono…”

  4. zhyrenx says:

    peh artikele kabotan, sing ringan ringan ae cah lak posting. eh mbah admin aq lagi nunggu artikele teko pak dokter kita, mbok dislentik pak doktere ben isine ono manfaate

  5. duniamascha says:

    mumet aku mocone … koyo mari mlebu pasar pare ..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s