Sate Rastaman; Generasi sang Legenda

Posted: November 16, 2009 by mbah admin in kuliner seputar pare

“Mbah mengingatkan jangan pernah meninggalkan budaya jawa…”

13 Oktober 2009. Sore hari. Saya mulai sibuk mempersiapkan recorder, camera digital dan beberapa peralatan tulis untuk liputan kuliner nanti malam. Ini kali kedua saya menjelajah kisah-kisah tersembunyi di sebalik penjual makanan yang ada di Pare. Tentu saja sembari mencicipnya.

Memang beberapa hari sebelumnya secara tak dinyana ada pesan masuk di handphone saya. Dari seorang teman yang tinggal di Jogja namun asli putra Pare; mas Sonny Bdoors – begitu saya akrab memanggilnya. Salah seorang peramut weblog Parekita. Dia memberi masukan tempat kuliner yang menarik. Sebuah warung sate yang terbilang baru. Dikelola seorang muda. Penyuka musik reggae dan gemar mengendara motor tua: Binter Mercy.

Walaupun warungnya terbilang baru namun seorang muda ini sudah lama berpengalaman meracik sate dan meramu gule. Ilmunya ia peroleh dari sang kakek: sang legenda sate Pare. Tanpa pikir panjang saya pun sepakat dengan tawaran tersebut.

Semua persiapan liputan telah selesai. Terkemas dalam rangsel butut yang masih kuat dan setia terjinjing di pundak. Saya pun bergegas memacu motor. Menelusur jalan. Menuju warung sate Rastaman.

Lelaki itu duduk santai sambil mengisab sebatang rokok. Warung tampak lengang. Hanya ada beberapa orang. Matanya awas menikmati jalanan yang ramai lalu-lalang kendaraan. Warung sate ini terletak di jalan Pahlawan Kusuma Bangsa Pare. Namun, banyak awam terbiasa menyebut jalan ini jalan Kediri. Mudahnya, warung ini ada di sebelah timur kantor pertanian Pare. Sederet dengan ruko-ruko. Saya pun nyelonong dan langsung memarkir motor di sebelah timur warung. Lelaki itu tampak heran memandang saya. Bertanya-tanya siapa gerangan. Belum bisa menebaknya.

“Oalaah…awakmu to, Pit.” teriaknya selepas saya membuka helm dan slayer penutup hidung. Saya pun disambut dengan ramah dan jabat tangan.

Lahir 8 Desember 1981. Lelaki itu berperawakan tinggi, tegap, berambut cepak dan berkulit sawo matang. Akrab dipanggil Nanang. Selain penjual sate, Nanang pun salah seorang pendiri dan pengurus Paguyuban Reggae Pare. Sembari minum kopi dan menyulut sebatang rokok kami larut dalam obrolan santai.

“Mulai kapan mas warung ini buka?” tanya saya memulai percakapan.

“Warung ini buka awal puasa kemarin. Tepatnya puasa H ke 3” jelasnya tenang

“Bisa sampeyan ceritakan pertama kali merintis warung ini?”

“Pertama kali warung ini buka memang pahit rasanya, Pit. Sedih. Bahkan perih. Sampai HP, kasur kobong kok ha..ha..ha..” ingatnya getir

“Ya…namanya juga orang baru babad. Apalagi tidak ada bantuan sama sekali dari keluarga. Cuma mak sekadar membantu jualan. Mbah memang memberi doa restu, tapi tidak bisa lebih banyak seperti materi atau apalah. Dadine warunge seh koyo ngene. Dan modal itu pun aku pinjam dari teman yang kuanggap seperti saudaraku sendiri”.

“Modal pertama yang aku punya waktu itu cuma satu juta seratus ribu. Pertama, aku gunakan untuk memesan banner seratus lima puluh ribu, tujuh ratus ribu untuk piring dan perlengkapan jualan, sisa dua ratus ribu untuk pengikat kontrakan warung. Kambing masih hutang.”

“Dan orang yang berperan penuh membantuku adalah mas Todik. Pokok wes tak anggep koyo masku dewelah. Selalu memberi semangat dan dorongan kepadaku. Bahkan, dulu pernah selama dua bulan aku tidak bekerja sama sekali. Aku dibantu olehnya. Dikasih uang,”iki ngge bojomu ben ra rame” katanya”

“Walaupun dia bukan siapa-siapaku, bukan pula karena masalah dia memberi materi, namun bagiku mas Todik adalah motivator. Aku pun terkadang kalau share selalu berdua. Dia berharap lebih kepada saya”

Obrolan kami terhenti sejenak ketika berhenti sebuah mobil di depan kami. Serom- bongan keluarga keluar dari dalam mobil.

“Ijek ra satene?” tanya seorang lelaki pengendara mobil tersebut.

“Ijek…Sek Pit tak tinggal mbakar sek”

“O, yo mas…sante we” jawab saya

Nanang pun langsung mempersiapkan pembakaran. Membumbui sate. Kemudian membakarnya. Asap mulai mengepul dan menyeruak tersapu ayunan kipas. Menghampiri setiap hidung orang-orang yang berada di sekitarnya juga orang yang berlalu-lalang di jalanan. Bau sedap sate yang terbakar seakan menggoda untuk mencicipnya.

Kemampuan Nanang dalam meracik sate dan meramu gule memang tak bisa lepas dari peran kakek – mbah Slamet pemilik Depot Sate Tenang. Didikan keras dari sang kakek ia rasakan sebagai proses belajar yang sangat berarti. Mewujudkan mimpi yang besar tentu tak semudah membalik telapak tangan. Begitu pun dengan berdirinya Depot Sate Tenang di jalan Kandangan yang sudah 43 tahun eksis berjualan sate ini. Bertahan dan masih diburu banyak orang. Bahkan beberapa orang penting, seperti pejabat, seniman, dan pemain sepak bola menyempatkan diri mampir ke depot Tenang bila sedang melewati Pare. Hingga akhirnya cita rasa depot ini sudah menjadi legenda kuliner tersendiri di Pare.

Sama seperti Nanang, awal mula mbah Slamet jualan sate juga merasakan pahit getir dalam setiap usaha, bahkan lebih. Suwarti anak perempuannya – ibunya Nanang – tahu betul perjuangan bapaknya tersebut. Ia setia menemani bapaknya dalam merintis jualan sate.

Sak durunge bakulan bapak mbiyen melu wong, mas” terangnya kepada saya. “Bapak ikut mbah Majid Jumali. Depot sate Jumali yang letaknya di pasar Pare itu”

“Akhirnya bapak di situ diberi kepercayaan untuk mengolah kambing. Di situ bapak bekerja selama dua tahun. Jenenge wae buruh, yo mas yo…di situ bapak hidupnya masih susah. Saya saja ditidurkan di bawah meja gerobak jualan.” kenang Suwarti.

Mbah Slamet memang tipikal seorang pekerja keras dan tak mudah putus asa. Dulu semasa muda selama ikut mbah Jumali ia selalu bangun pagi. Yang dikerjakannya setelah bangun tidur adalah korah-korah, bersih-bersih, dan menyembelih kambing. Sampai akhirnya suatu ketika dia terbuka pikirannya untuk jualan sate sendiri. Setelah peristiwa Gestapu tahun 1966, mbah Slamet mulai jualan sate sambil mikul turut jalan saban hari. Karena ada sedikit kendala mbah Slamet sempat berhenti jualan. Kemudian mulai jualan lagi pada tahun 1971.

Saat itu mbah Slamet mengontrak sebuah rumah di Puncak Jaya (rumah itu sekarang dimiliki mbah Slamet dan dibuat usaha warnet oleh anaknya). Dan itu pun hanya mampu mengontrak satu kamar. Pada waktu itu, untuk jualan sate saja, ia hanya mampu membeli paha daging kambing. Ia jualan sate dengan rombong kuali yang dipikul keliling Pare mulai jam enam sore sampai malam. Dari pasar lama, terus ke pos polisi kemudian menelusur jalan Kandangan dan berhenti di Tangsi – depan Corah.

“Kalau mengingat waktu itu begitu menyedihkan, mas. Saya merasa kasihan kepada bapak. Bila waktu jualan kurang nasi atau ada kurang yang lain, saya selalu menyusul bapak sambil menggendong rinjing untuk mengantar nasi. Kondisi jalannya begitu gelap sekali dan terasa angker”, jelas Suwarti.

Raut mukanya tampak sedih mengenang masa-masa sulit itu. Katup matanya berair. Namun, ia mencoba menahan tangisnya. Saya pun hikmat menyimak setiap detil kisahnya.

Lha ndelalahe mas yo, liku-likune wong nek ra nduwe, mas yodiapusi wong. Saat jualan sudah lancar setapak demi setapak, tiba-tiba ada orang yang mengacau. Biasanya gule kan warnanya kuning, suatu ketika bapak ditegur sama pak kaji Jaumuri namanya. Met, Slamet…gulemu kok raiso abang to, Met. Opo nek mu masak piye? Mbok njajal weneono sombo(pewarna makanan), ujarnya menirukan

“Entah kenapa akhirnya bapak manut saja. Gule dikasih sombo. Akhirnya, mas…”, lenguhnya panjang, “dodolane bapakku sewengi kui ora payu. Utuh mengkeluh ra enek sing tuku. Sampai di rumah bapak nelangsa, sedih, nangis apalagi basah kehujanan. Semua orang di rumah menangis. Semua bingung apakah besok bisa jualan lagi atau tidak” ungkap Suwarti dengan nada miris.

“Besoknya, ya mas…tempat nasi dan beberapa piring dijual untuk modal jualan sate lagi. Bapak pun kemudian ditolong seseorang. Bapak dibantu tempat jualan di depan hotel Amanda. Bapak mulai lagi jualan sate di situ. Bukanya setiap jam setengah satu siang. Semenjak itu jualan mulai berjalan mulus. Walau kadang-kadang sedikit ganjalan juga ada.”

Tahun berganti tahun. Cobaan demi cobaan dilalui mbah Slamet tanpa putus asa. Prinsip hidupnya sederhana; hadapi semua dengan tenang. Alhasil, usaha Depot Sate Tenang milik mbah Slamet mulai lancar dan berkembang pesat. Dari sinilah Nanang muda mulai belajar dan dididik sang kakek dalam mengolah kambing. Sang kakek pun berwejang,

“Suatu saat kau harus jualan sendiri!”

Saya masih duduk termenung sambil mencatat hal-hal penting yang saya tangkap dari obrolan kami berdua. Saya pun asyik masyuk berceloteh dengan Danang – musisi reggae Pare – sembari minum kopi dan mengisab rokok. Dia baru datang beberapa menit lalu. Nanang sendiri masih terlihat sibuk membakar sate. Sedang ibunya menyiapkan hidangan nasi gule untuk pembeli yang baru saja datang.

Selang beberapa menit kemudian saya terkejut ketika disuguhi nasi gule campur. Saya merasa tak enak hati. Niat hati sekadar meliput kuliner. Namun, akhirnya saya tak kuasa menolak rejeki yang tiba.

“Wes ndang disambi, Pit. Ndang, Nang” teriaknya sama saya dan Danang

“Walaah, mas…kok repot-repot to” jawab saya sungkan

“Gak po-po. Ben ngerti rasane”

Tanpa basa-basi lagi saya langsung mencicip nasi gule campur yang disuguhkan. Dan perlu diketahui, saya tak sepandai dan sedetil laiknya reporter kuliner di televisi-televisi yang mampu mengeksplor rasa sebuah masakan dengan jelas dan baik. Saya hanya bisa mengatakan bahwa hidangan di warung Rastaman ini memang nikmat dan sedap. Pantas masuk dalam catatan perjalanan kuliner anda di Pare. Saya pun hanya bisa berseru: Anda wajib mencobanya!

Harga tiap menu di warung ini standart dan ekonomis. Tidak terlalu menguras kocek anda. Satu porsi sate seharga 16.000 rupiah, gule 10.000 rupiah dan nasi campurnya 8.000 rupiah.

Selain itu, Nanang sendiri mempunyai mimpi besar dan pendirian yang teguh. Ia ingin membangun dan memajukan kota Pare ini. Ia ingat jelas wejangan sang kakek. Jangan pernah meninggalkan budaya jawa. Itulah mengapa ia tidak mau meninggalkan Pare. Ia ingin tinggal selamanya, berkiprah dan berkreativitas di Pare.

“Kalau semua generasi mudanya meninggalkan Pare, lalu siapa yang akan membangunnya?” ungkap Nanang

Saya tertegun sejenak. Saya menangkap makna yang begitu dalam dari perkataannya. Saya sendiri pun menyadari bahwa Pare mempunyai banyak pesona dan potensi yang masih belum sepenuhnya dimunculkan. Walaupun lingkupnya kecil namun Pare mampu berkembang menjadi lebih besar. Tinggal bagaimana generasi mudanya menyikapi kondisi ini.

Selesai menyantap nasi gule campur tadi, saya pun mulai bertanya lagi.

“Mas, iso sampeyan ceritakne pengalaman sampeyan pas jek melu mbah Slamet?”

Aku melu mbah kui mulai tahun 1992 sampek 2009, Pit”, terangnya, “Merasakan getir pahitnya dimarahi, diejek, dan dipisuhi. Pernah juga aku mogok kerja, tidak masuk seminggu, bahkan sempat mau keluar. Namanya juga masih anak muda, yo to…” terangnya

Pernah suatu kali sang kakek kecewa bahkan sangat marah sama Nanang ketika mendengar cucunya tersebut bekerja di salah satu diskotik di Kediri. Kebetulan juga waktu itu istrinya Nanang sedang hamil muda. Nanang pun langsung disuruh pulang sama sang kakek. Disuruhnya Nanang kembali membantu di warung.

Trus aku mbalek kerjo nek warung, Pit. Kalau pagi itu sudah mulai membantu menyembelih, mbeteti, mencuci jeroan, sampai membuat sate, kabeh tak tandangi. Setiap hari selama satu minggu itu mbah selalu nggremengi aku. Suka marah-marah lah”

Nanang memang paling takut sama kakek. Apapun permintaan dan saran kakeknya selalu ia penuhi. Entah itu benar atau salah tapi alhasil pikiran Nanang semakin terbuka dan dewasa.

“Di antara saudara-saudaraku, yang paling sering dipecuti sama mbah itu aku terus, Pit. Tapi sekarang aku bisa berfikir, Ooo…ternyata omongannya mbah itu benar. Aku dipecuti sama mbah itu bukan karena mbah benci sama aku, melainkan mbah ingin menurunkan ilmunya ke aku. Cuma itu saja prinsipku. Jadi setiap hari walaupun sering dimarahi itu sudah aku anggap hal yang biasa”, ujarnya santai.

Puncak dari kematangan berpikirnya ketika ia memutuskan untuk membuka warung sate sendiri.

“Salah satu hal yang mendorong aku ingin membuka warung sendiri karena aku memang sering disepelekan. Bahkan keluargaku memandang; Nanang lho opo iso dodolan sate dewe?. Lak yo wes to ngono kui, Pit”, saya pun merasakan nada getir di kalimatnya yang terakhir itu.

Melihat hal itu Nanang semakin berusaha keras membuktikan bahwa dia mampu jualan sendiri. Nanang pun diberi semangat oleh seseorang yang akrab dia sapa mas Todik. Selain meminta saran dari mas Todik, Nanang juga membujuk Mak untuk membantunya jualan. Mak pun akhirnya setuju. Semakin mantablah hati Nanang.

Todik baru mengenal Nanang dengan akrab sekitar satu tahun belakangan ini. Kalau sama keluarga besar mbah Slamet Todik sudah akrab sebelumnya. Pertama, mereka berdua memang sebatas teman biasa. Hingga akhirnya mereka menjadi karib. Waktu itu Nanang pernah share berdua dengannya. Nanang mengutarakan keluh kesahnya kepada Todik bahwa ia ingin mandiri. Todik menyimak segala keluhan-keluhannya.

“Saya kemudian moncoba membuktikan benar nggak dia mampu untuk berkembang sendiri? Saya korek lebih jauh. Saya cari tahu berapa lama pengalamannya, baik motong, masaknya, atau membuat satenya. Nanang memang banyak cerita tentang kemampuannya. Namun, waktu itu saya belum percaya langsung. Kemudian saya cari informasi dari kakaknya. Dijawab, oya memang Nanang sudah cukup berpengalaman” jelas Todik

Dari situlah Todik mulai membantunya. Menurut Todik Nanang waktu itu belum berani untuk bangkit sendiri karena selama ini ikut mbahnya terus. Dia pun tak putus memberi motivasi kepada Nanang.

“Sak enak-enake wong, paling enak dadi juragan. Ben sak cilik-cilik o usahane. Sak gedhe-gedhene awake dewe kerjo nggone wong, tapi awake dewe tetep dadi babune”

Itulah salah satu motivasi yang pernah diberikan ke Nanang. Akhirnya, Nanang pun bangkit. Bersemangat. Semakin mantab pada keputusan dan pilihannya. Dan Todik mulai membantu ala kadarnya.

“Tidak cuma Nanang, saya ingin semua teman-teman saya bisa mandiri. Karena kalau kita berteman dan sama-sama berwirausaha itu kan enak, mas. Bisa saling tolong menolong. Kalau sedang kumpul pun tidak ada rasa sungkan. Saya pribadi berprinsip bagaimana saya bisa memotivasi teman saya. Karena suatu saat saya pun butuh bantuannya. Saya senang kalau melihat teman saya sukses. Bila suatu saat kita kesusahan – bukan bermaksud pamrih – mereka bisa ganti membantu atau memotivasi kita. Memberikan dukungan. Bukan hanya dalam hal materi saja tentunya. Kalau masalah materi itu nomor dua” ujar Todik

Todik pribadi sangat senang bila melihat temannya yang dulu urakan bisa berubah dan membuktikan dirinya menjadi lebih baik. Jadi masyarakat bisa tersadar dan menilai bahwa tidak selamanya orang seperti itu selalu buruk. Dan mimpi paling utamanya juga sama dengan Nanang.

“Ayo kita membangun kota Pare ini. Ini tanah kelahiran kita. Bagaimana supaya bisa megah. Kalau bisa kitalah yang menjadi pionernya. Jangan sampai orang lain. Mulai dari seni, budaya, sosial, wirausaha atau apapunlah…”

Setelah mantab dan yakin dengan pilihan dan keputusannya, Nanang pun mulai sibuk mencari-cari tempat yang pas untuk jualan.

“Saya memilih jualan di sini karena waktu itu sedang ngopi di jalan Kediri. Tepatnya ya di warung ini. Kemudian saya berpandangan kok enak sekali suasananya. Akhirnya, saya bilang sama pemilik warung untuk mengkontraknya karena tahu penjual kopi ini tidak akan meneruskan jualannya”

Setelah dipertimbangkan secara matang, Nanang pun segera meminta doa restu sang kakek. Ia ingin mengutarakan maksudnya untuk membuka warung sate sendiri.

“Dimana kamu jualan?”, tanya sang kakek

“Di Pare, mbah”, jawab Nanang. Kakeknya kemudian berpikir

“Di Pare sebelah mana?”

“Jalan Kediri”

“Oyo,le…” jawab kakek merestui, “Tapi kalau di Pare apa kamu akan tetap memakai namanya mbah; Depot Sate Tenang pak Slamet?”

“Lho kalau tidak boleh juga tidak apa-apa, mbah. Saya sudah punya nama sendiri”

“Depotmu namanya apa?”

“Warung mbah bukan depot. Saya tidak mau memakai nama depot.”

Nanang memang tidak mau menamai tempat jualan satenya dengan depot. Ia lebih memilih menyebutnya warung. Alasannya sederhana. Bagi Nanang warung itu adalah tempatnya orang santai. Menikmati makanan sambil ngobrol-ngobrol. Lebih merakyat dan tidak terkesan eksklusif.

“Kalau depot itu kan kesannya orang datang ke situ sekadar makan lalu pulang. Nah, kalau warung, kita kan bisa cangkruk sambil ngobrol-ngobrol dan mencari teman. Dasare aku kan yo seneng cangkruk to, Pit hahahhaha….”, kami pun tertawa lepas dan benar-benar larut dalam suasana malam. Saya mulai meyuruput sisa kopi yang sudah mendingin. Mengambil sebatang rokok. Kemudian menyulutnya.

Bukan karena kebetulan Nanang memasukkan unsur reggae ke dalam warungnya. Dia membawa unsur reggae karena jatuh dari reggae dan ingin bangun dari reggae.

“Aku mulai jatuh itu saat berdirinya Paguyuban Reggae Pare. Aku sudah tidak punya apa-apa. Tabungan sudah habis, bahkan motor sampai aku gadaikan untuk event-event reggae yang kemaren diselenggarakan. Sampai mbahku kemudian marah dan tidak mau ngomong sama aku. Dan aku mengakui itu murni kesalahanku. Walaupun dalam acara itu bukan aku sendiri yang menanggung. Dan yang perlu dicatat, aku tidak menyalahkan teman-teman yang lain atau menuntut minta ganti apa yang sudah aku keluarkan. Tidak sama sekali. Justru ini menjadi salah satu semangat mendirikan warung ini”

“Kalau nama Rastaman ini bagaimana asal-muasalnya, mas?”

“Nama Rastaman ini idenya dari temanku. Namanya mas Agus. Orang Bendo yang beristri orang Australia itu, tahu kan?”, saya mengangguk pelan.

“Waktu itu dia melihat motorku Binter Mercy ini. Di slebor tengah ada tulisan One Love Rastaman. Kemudian mas Agus itu menyeletuk;

“Kamu tahu apa artinya itu, Nang?”

“Wah nggak ngerti, mas” jawabku waktu itu.

“Kalau One Love tahu kan?”

“Tahu mas, satu cinta” jawabku

“Kalau Rastaman?”

“Ra ngerti aku, mas”

“Lha awakmu iki wong reggae kok ra ngerti!” katanya memarahiku

“Itu artinya RASA TETAP NYAMAN hahahhaha….” jawab mas Agus

“Wah, masuk itu mas. Oke kui…

“Semenjak itu, Pit, aku berangan-angan – dua tahun yang lalu tepatnya – ingin punya warung dengan nama RASTAMAN”

Jam menujuk pukul 20.15 WIB. Nanang dan pekerjanya mulai berkemas menutup warung. Jualannya telah habis. Saya pun menghabiskan sisa kopi yang telah lama mendingin dan mengemasi semua perlengkapan wawancara tadi ke dalam rangsel butut.

Tak lupa saya juga berterima kasih atas segala suguhan yang diberikan. Saya pun pamit pulang.

(A Iwan Kapit, Penulis tinggal di Pare. Pemerhati dan penikmat budaya lokal.)

Comments
  1. Liput jg tahu thek2
    rujak cingur,
    soto yg mak nyos,n bakso,nasgor dll.
    Pokoky yg makknyos ya.nt q cobain t4 makany.
    But alamaty tlong lbh diperjelas.
    Thanks
    makin kreativ ja y,,,

  2. dian says:

    waah…adhiku wis dewasa tenan saiki,he…he…. yo wis tak dongakne laris bakulane,nek aku mudik gratis yo…

  3. luv says:

    piye rasane aq ta moro rono
    regane piro sa porsi?… prasmanan opo ora? hehehe

  4. Elang says:

    Bakule nek Jalan pahlawan nomer piro pakde?
    Rasane pingin njajal

  5. sonnie qither says:

    sing penting “TELATEN”,Nang……
    …ojo “GENJEH” !!!!!
    …..sembarang penggawean kuncine mung telaten….
    ….nylambu ae nek ditelateni,,,yo hasil e enek…..
    …bener gak Thus…???!!!!!

  6. kenthus says:

    @ awex ; satene nanang wi sing dipangan pas riyoyo wing, gak ada perbedaan ama saenya dpot tenang … tapi …. ada feel rasta`nya …

    nb: pokok`e nek ketemu pak nanang neng ngendi wae …mesti mbengok ……..YOUUUUUUUMAAAAAAA ….!!!

    wakakakakak … aku rak tau mrono, soale ojob meteng,rak entuk mangan daging kambing …!!

    oke sate rasta … oke pak nanang …!!!

  7. duniamascha says:

    waaah .. jan apik tenan ulasanne … luweh luwes dari yang pertama .. peningkatan signifikan bwt mas kapit.
    njur isine … peeeh .. mbarai pengen muleh ae reek …pengen jajal lan cangkruk nduk kono, secara kono kui jajahanku pas SMA ndisik …
    maju mas nanang …. maju kuliner pare!!!

  8. sonny bdoors says:

    awesome pit…..awesome!!!🙂

    saya setuju dengan kalimat “….jangan pernah meninggalkan budaya jawa…”. karena budaya adalah indentitas sebuah masyarakat. sebuah budaya menjadi langgeng apabila masyarakat sekitarnya ikut “nguri-uri” bentuk-bentuk kebudayaan tersebut. termasuk melestarikan budaya kuliner.

    sebagai penikmat sate kambing, warunge nanang ki patut di coba, soale kabeh warung sate nang pare wis tau tak cobo kabeh hehehehe..la warung sate kambing sak jogja wae hampir 70%ne wis tau tak cobo kabeh :)…

    buat nanang dan teman2 reggae pare, tetap semangad dan harus selalu guyub dan rukun🙂..teman2 parekita siap men-support acara teman2 reggae pare…pokoe tetep one Love..one Heart..let’s get together and feel all right..😀

    buat kapit, artikelmu kali ini jos gandos dab..🙂
    alur critane pas dan enak di baca.
    lanjutkan pit…!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s