Legend Pak Mul Sisa Sebuah Tradisi

Posted: November 23, 2010 by mbah admin in kuliner seputar pare

Seumur hidupnya ia hanya ingin berjualan Legen. Tidak yang lain. Ia meyakini bahwa ini jalan rejeki yang diberikan oleh Tuhan.

Oleh : A Iwan Kapit

Pagi ini seperti biasanya ia menunggu penderes menyatroni rumahnya sembari membawa berliter-liter hasil deresan air nira pohon kelapa. Orang menyebutnya Legen. Minuman tradisional yang banyak terdapat di desa Jombangan ini sangat merakyat. Di antara daftar kuliner tradisional yang ada di Pare, Legen bisa dikata minuman yang masih banyak diminati masyarakat. Selain murah meriah minuman ini mempunyai karakter rasa yang khas. Sangat nikmat bilamana diminum pada siang hari. Sungguh segar tak terkira.

Legen hasil deresan pagi ini sudah datang. Tanpa perlu dimasak Legen langsung dimasukkan dalam bumbung (bambu besar) dengan segera. Semua sudah siap. Tugas pun dibagi. Ia yang mengantar bumbung-bumbung Legen ke tempat jualan sedang sang istri yang menjual.

***

Namanya Mulyono. Ia biasa disapa pak Mul. Lelaki berusia 66 tahun ini memulai jualan Legen pada tahun 1962. Pada waktu itu ia ditanya oleh ayahnya. Ingin melanjutkan sekolah atau memilih bekerja. Melihat kondisi orang tuanya yang kekurangan, Mulyono muda akhirnya memutuskan tidak melanjutkan sekolahnya. Ia lebih memilih bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya.

“Aku dodolan Legen mergo wong tuo ra nduwe modal ra enek. Istilahe dodolan Legen kui kan ra modal to, dhik. Njupuk neng nggone wong sing nderes, muleh mbayar” terangnya kepada saya dengan aksen Jawa yang kental.

Dulu menjual Legen memang tak perlu modal. Akad jual yang berlaku pada waktu itu Legen diambil terlebih dahulu baru dibayar sepulang jualan. Tanpa uang sepeser pun di tangan, Mulyono muda mendatangi rumah-rumah penduduk yang saban harinya menderes Legen. Hanya bermodal kejujuran dan kepercayaan ia mulai berjualan Legen. Sepulang menjual baru ia bayar Legen-Legen yang ia ambil tadi.

Tidak ada sepeda. Ia menjajakan Legennya dengan memikul dari satu tempat ke tempat yang lain. Tahun awal ia berjualan Legen belum ada satu tempat pun yang ia rasa pas untuk dijadikan dasaran tetap. Baru pada tahun 1967 ia mendapat tempat yang cocok untuk berjualan menetap, yaitu di jalan Kandangan depan SMP Katholik hingga sekarang.

Pada 1966 Mulyono muda memutuskan untuk menikah. Dari pernikahannya yang pertama ini ia dikaruniai seorang anak. Namun sayang pernikahannya ini tidak bertahan lama. Kemudian ia memutuskan untuk menikah lagi pada tahun 1972 dengan seorang perempuan dari Mangiran bernama Sumirah. Pernikahannya dengan Sumirah ini membuatnya dikaruniai 3 orang anak. Semua perempuan.

Dari gelas demi gelas Legen yang ia jual saban harinya, Mulyono kemudian mampu membeli sebidang tanah seluas 50 Ru dan menyewa kebun Kelapa.

“Jaman semono nyewo wit klopo jek murah, dhik. Sak wit kui sepuluhewu. Kui selama setahun” jelasnya mengingat.

Keputusannya untuk menyewa kebun kelapa ini dengan niat mampu menderes Legen sendiri tidak berlangsung lama. Si Emak menyarankan agar Mulyono cukup berjualan saja. Tanpa perlu bersusah payah memanjat pohon Kelapa saban pagi dan sore hari untuk mengambil sari pati bunga Manggar yang manis itu. Lebih hemat biaya dan tenaga. Mulyono pun akhirnya menuruti nasehat sang Emak. Ia sadar keuntungan yang diperoleh hanya dengan menjual Legen saja dari orang-orang sudah dirasa cukup. Rasa cukup dan syukur inilah yang kelak membuatnya menjadi orang yang berhasil.

Walaupun berjualan tanpa modal, jangan dikira semua berjalan dengan mulus. Pernah suatu waktu ketika Pare sedang gencarnya meraih gelar Adipura ia mendapat berita semua PKL yang berjualan di pingir jalan akan disapu bersih.

“Nggeh nek masalah wayah susahe sadean Legen niku pas ragil kulo mlebet TK mbiyen, mas. Dados kulo pas sadean sering diurak-urak goro-goro badhe wonten Adipura. Dodolan niku rasane mboten tenang” ungkap Sumirah sang istri sambil tertawa

Namun, karena dulu pelanggannya banyak juga yang polisi-polisi muda ia merasa aman. Tak sedikit pun merasa khawatir. Sudah pasti mereka akan melindunginya. Bagi Sumiarsih mereka sudah dianggap anak sendiri. Karena kedekatan emosional itulah, beberapa di antara polisi-polisi muda tersebut, yang kini telah berpangkat, masih tetap menjadi pelanggan setianya. Sebut saja Bambang Tri Atmodjo Kapolda Jawa Tengah

“Dados mbiyen nggen sadean kulo niku didamel cangkruk polisi kalian tentara, mas. Nek pas wayahe wangsul Pare saking Bali, Suroboyo, utawi saking Jawa Tengah, tiyang-tiyang niku mesthi madosi kulo. Tangklet kabar kaleh tumbas Legen damel oleh-oleh” jelas Sumirah menambahkan.

Memang bisa dikata Legen yang dijual Mulyono terasa lain dari yang lain. Ia sangat menjaga kualitas. Semenjak awal berjualan selalu Legen yang murni yang ia tawarkan. Tanpa campuran air. Baginya Legen yang sudah tercampuri itu sudah rusak karakter rasanya. Manisnya berkurang. Tidak lagi nikmat.

Bagi awam yang baru kali pertama meminum Legen tentu sangat sulit membedakan mana yang murni dan mana yang sudah tercampuri. Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa mencicip tentu hal itu bukan perkara yang rumit.

Dalam sehari Mulyono disetori penderes Legen dua kali. Pagi dan sore hari. Legen yang disetor pagi hari tidak perlu dimasak terlebih dahulu. Sedangkan Legen yang disetor sore hari harus dimasak supaya tahan hingga esok pagi.

Memang ada sedikit perbedaan rasa antara Legen yang dideres pagi dengan sore. Legen pagi biasanya rasa manisnya lebih segar. Terkadang ada rasa masamnya sedikit. Rasa masam ini bukan berarti Legen sudah kadaluarsa, melainkan hasil peyaringannya yang kurang maksimal. Namun campuran rasa manis dan sedikit masam ini justru menjadi kelebihannya. Sangat pas bila diminum di siang hari. Sedangkan untuk Legen sore hari rasa manisnya begitu pekat. Begitu meminumnya manisnya langsung terpacak dan meninggalkan kesan yang lama di tenggorokan. Legen sore inilah yang biasanya dijual untuk para pelanggan luar kota karena tahan lebih lama.

Dalam sehari Mulyono mampu menjual 150 liter Legen. Bilamana Legen yang ia jual tak habis maka sisanya akan dibuat menjadi gula merah. Di desa Jombangan sendiri selain Legen, terkenal pula dengan produksi gula merahnya. Bahkan harga per kilonya lebih mahal dibanding Blitar; sekira dua belas ribu rupiah.

Bagi Mulyono dan Sumirah tidak ada hari libur dalam menjual Legen. Kecuali bila mereka sedang berhajat. Terlebih hari Minggu. Hari yang baik bagi mereka untuk jualan. Mereka menyayangkan bila harus libur jualan.

“Umpamane sampeyan gadah konco. Nek tuku Legen nek kono lho sing enak. Ndelalah pas sanes kulo sing dodol. Tiyang lentu sing dodol. Kan sampeyan sing dilokne. Legen ra enak kok muni enak. Lha…njogo ngono kui lho, dhik” jelas Mulyono

Kini setelah 48 tahun berjualan Legen, Mulyono dan istrinya Sumirah hidup berkecukup an. Mereka bisa membangun rumah sendiri dan mampu membesarkan anak-anaknya hingga menjadi orang yang berhasil. Semuanya anaknya sudah berkeluarga. Anaknya yang pertama tinggal di Krian. Anaknya yang kedua menjadi Bidan di Blitar dan sekarang sedang mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di UI Jakarta. Sedangkan anak perempuannya yang terakhir tinggal di Jombangan sembari membuka usaha pracangan (toko kelontong).

***

Sekali waktu bila anda melewati jalan Kandangan Pare sempatkan diri sejenak untuk mencicip Legen pak Mul ini. Tak begitu sulit mencarinya. Ia masih menggelar dagangannya di depan SMP Katholik Pare. Hanya dengan merogoh kocek seribu rupiah anda sudah bisa mencicip Legen murni tanpa campuran. Rasakan sendiri sensasinya!

Di tengah serbuan kuliner yang berciri urban, ternyata Legen masih punya tempat tersendiri di masyarakat Pare. Bagian dari tradisi yang masih tersisa.

Comments
  1. Anonymous says:

    Alhamdulillah akhirnya ,orang pare asli yg merasakan pahit getirnya hidup,semoga tetep ingat akan sejarah.

  2. Anonymous says:

    minum legen sambil makan keripik singkong super pedas leker juga mas..
    hasil dari kampung Enggris : MAHESIN
    salam : Dyan
    email :pru_kediri@yahoo.com

    kediri-agro.blogspot.com
    081328068375

  3. pakdhesam says:

    masih inget dl smp tahun 1995, masih harga Rp.100

  4. Anonymous says:

    masih ingat bro, dulu waktu ane masih smp, dulu sekolah di smpn 2 pare tahun 1995-1997. sering kali setiap pulang sekolah mampir beli legen depan smp katolik. waktu itu yg sering jual adalah ibu-ibu mungkin itu bu sumirah kali ya… dulu harga Rp.50 per gelas kecil dan Rp.100 per gelas gede

    nice post bro…!!

  5. QinZirO says:

    Healah ngunu to..

  6. ega says:

    nice posting ni, dah bantu menguak kisah legen yang melegenda di pare…xixixix nice nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s