Sang Penjaga Kebudayaan dari Watu Dandang

Posted: November 23, 2010 by mbah admin in Cerita seputar Pare

Oleh: A Iwan Kapit

Kali pertama saya mendengar namanya tepat di penghujung 2009. Maka sejak saat itu pula saya berniat untuk mengenal lebih karib sosok yang sepanjang hayat membaktikan diri di dunia seni. Terlebih seni tradisi. Tanpa menunda banyak waktu, saya pun bergegas mengorek informasi dari berbagai sumber tentang keberadaan serta kiprahnya dalam berkesenian di Pare.

Pucuk layu disiram hujan. Kesempatan baik itu akhirnya datang. Saya berkenal dengannya. Seorang laki-laki. Usianya separo abad lebih. Tepatnya 72 tahun…

***

Dia berasal dari desa bernama Watu Dandang. Desa ini masuk wilayah Kabupaten Nganjuk. Merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Ayahnya bernama Sastrapawira dan ibunya Warsinem. Pada masa kolonial ayahnya seorang tokoh masyarakat pun seorang tokoh seni di desanya. Dari sepuluh bersaudara itu hanya dua saja yang mewarisi darah seni sang ayah. Dia dan kakak lelakinya. Sang ayah selalu mewanti-wanti jangan sampai darah seni di keluarga hilang. Itulah mengapa pesan dari sang ayah ini selalu dia pegang teguh sepanjang hidupnya. Hingga anaknya pun diwanti-wanti demikian. Kecintaannya terhadap dunia kesenian itulah – seni wayang dan tari tradisional – membuatnya menjadi salah seorang yang dikenal sebagai sosok yang menjaga teguh dinamika kesenian tradisional di Pare.

“Bapak itu berkecimpung di dunia kesenian memang sejak kecil. Karena darah dagingnya orang seni. Bapak tidak ingin darah seni di keluarga ini hilang. Maka dari itu dua kakak perempuan saya sampai dikuliahkan di ISI Jogjakarta. Selain itu, bapak di rumah juga mendirikan sanggar tari” tutur Tudik salah seorang putranya.

Dia mulai hijrah ke Pare sekira tahun 1950-an. Menikah pada 26 Mei 1961 dengan seorang perempuan bernama Sumiati. Dari pernikahannya tersebut ia dikaruniai tujuh orang anak; di antaranya Mukti Listyowati, Mukti Kusumowati, Mukti Rinolowati, Tudik Priyambodo, Mukti Endah Puspito Rini, Satrio Yunus Prastowo, dan Wahyu Hadi Candraprastya.

Di mata anak-anaknya, lelaki ini berperangai kalem. Corak personalitas orang Jawa melekat kuat pada dirinya. Sabar dan mengalah. Segala hal disikapi dengan lapang dada dan nrimo. Hal yang terkadang sulit diterapkan oleh anak-anaknya.

“Bapak itu orangnya selalu mengalah. Dalam segala hal. Sifat bapak yang demikian ini belum sepenuhnya bisa saya terapkan. Bagi saya mengalah itu boleh namun kalau harus mengalah terus-terusan itu kan rasanya kita seperti diinjak-injak. Terkesan diremehkan harga diri kita. Namun, bapak selalu bilang bahwa kita tetap harus mengalah dan sabar” lanjut Tudik

Sifat diri seperti inilah yang menjadikannya sangat bijak dalam mendidik dan memimpin keluarga. Ia menjadi panutan dan dikagumi oleh anak-anaknya. Orang lain pun banyak yang takzim kepadanya. Baik orang-orang di lingkungan sekitar rumah maupun di sekolah tempat ia bekerja.

Selain sebagai penggiat seni ia juga seorang guru sekaligus Kepala Sekolah. Di tahun 1958 ia mulai mengajar di sekolah Mardi Tresno. Sebelum itu sempat pula ia menjadi Kepala SMP Nasional (dulu terletak di barat Mardi Tresno sebelah utara jalan. Kini berdiri Depot Anyar dan komplek pertokoan). Baru pada tahun 1972 secara aklamasi ia dipilih menjadi Kepala Sekolah Mardi Tresno.

“Kepemimpinannya bagus. Beliau orangnya sangat disiplin dan sabar. Memimpin dengan semangat kasih” tutur Kiswanto(74) salah seorang guru Mardi Tresno yang dulu pernah dipimpinnya. Kening Kiswanto berkerut. Matanya menengadah ke atas. Mencoba mengingat-ingat segala kenangan yang masih tersisa. “Selama beliau menjadi Kepala Sekolah, MT berkembang begitu pesat. Kelasnya mencapai 29 ruang. Ada yang masuk pagi dan sore. Beliau melebarkan MT ke barat dan timur hingga nampak lebih luas”

Masa itu sekolah Mardi Tresno sangat identik dengan keseniannya. Hampir tiap peringatan hari Kemerdekaan RI sekolah ini selalu diundang untuk memeriahkan dengan pentas kesenian tradisional. Selain itu, sekolah ini pun kerap kali diundang oleh TVRI untuk mengisi program acaranya. Semua itu karena kesenian di sekolah ini begitu dikembangkan dengan optimal. Bisa dikatakan sekolah Mardi Tresno masa itu merupakan sekolah swasta terbesar yang ada di Pare. Membuatnya lebih unggul dari pada sekolah negeri yang ada.

Di sekolah ia memang sosok yang sangat disiplin. Terlebih masalah waktu. Ia selalu datang ke sekolah lebih awal dari guru-guru ataupun para murid. Ia pun terbiasa naik onthel tiap kali berangkat ke sekolah. Jarang sekali ia menaiki motor. Bilamana sudah waktunya bel masuk, gerbang sekolah segera dikunci. Kalau ada guru atau murid yang datang terlambat sudah tentu tidak akan dibuka sebelum istirahat. Selain itu, dalam menindak para murid yang melakukan kesalahan – seperti berkelahi – ia pun memberikan hukuman tanpa pandang bulu; biar pun itu anaknya sendiri.

“Waktu itu saya sempat berkelahi. Biarpun saya anaknya, saya tetap dihukum pada waktu upacara. Di rumah pun saya masih di tegur. Bapak selalu menasehati agar saya tidak memberi contoh yang jelek di sekolah” kenang Tudik

Selama menjadi Kepala Sekolah Mardi Tresno, banyak sekali metode-metode yang ia terapkan untuk meningkatkan mutu sekolah. Terlebih kualitas peserta didiknya. Salah satunya tentang penerapan kejujuran. Bagi dia kejujuran adalah hal utama. Oleh karena itu, untuk melatih kejujuran seluruh peserta didik di Mardi Tresno, ia membuat Warung Buta. Lapak kecil yang diletakkan di depan kelas. Semua kelas diberi lapak-lapak untuk tempat jualan penganan dan minuman. Warung ini sifatnya swalayan. Artinya, para peserta didik membeli, membayar, dan mengambil uang kembalian sendiri.

“Warung ini yang mengawasi murid-murid sendiri. Jadi sekolah menunjuk beberapa murid yang bertugas mengelola secara bergantian. Kalau pagi hari yang menjaga warung ini murid yang masuknya sore. Sedangkan sore harinya yang menjaga para murid yang masuk pagi. Guru tidak banyak mengawasi. Ini adalah cara untuk melatih mereka bersikap jujur” ungkap Heru Yanto(63) salah seorang guru Mardi Tresno yang kini menjadi pengurus makam Yayasan Mardi Tresno.

Kejujuran ini pula ia terapkan pada dirinya sendiri. Walaupun sebagai Kepala Sekolah ia tidak mau menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi. Pernah ketika penyerahan bantuan dari Jepang, ada salah satu kontraktor yang mencoba membujuknya. Bilamana kontraktor tersebut bisa memenangkan tender pembangunan di Mardi Tresno maka ia akan diberi hadiah. Namun, dengan tegas ia menolaknya. Dia selalu mengambil keputusan yang dinilai baik dan dirasa adil. Itu yang selalu dia mau.

Dalam meningkatkan rasa kekeluargaan sesama guru ada upaya menarik yang dia lakukan. Salah satunya yang hingga sekarang masih membudaya di Mardi Tresno adalah dengan adanya arisan guru.

“Arisan ini tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan. Jadi pada waktu arisan semua guru-guru wajib membawa anggota keluarganya. Mulai suami atau istri dan anak-anak mereka. Semua biar saling mengenal dan tahu. Begitu juga bagi anak-anak. Sehingga mereka tidak akan bertengkar pada waktu di sekolah” terang Heru Yanto ketika saya temui di rumahnya.

Selain karakter pribadinya yang low profile, ia juga termasuk orang yang jarang sekali marah. Terhadap siapa pun. Baik dengan orang lain maupun anak-anaknya sendiri. Jika saja anaknya ada yang melakukan kesalahan ia sekadar diam. Tidak marah apalagi main tangan. Ya, cuma di diamkan saja. Tidak mengajak ngomong. Isyarat ini sangat dipahami betul oleh anak-anaknya.

“Pernah dulu ada tetangga yang maling ayam di rumah. Saya langsung mengejarnya sambil membawa clurit. Bapak justru menahan saya. Saya yang justru ditegur. Bapak malah membiarkan. Alasan bapak sederhana. Mungkin orang yang mencuri itu lebih butuh. Biar tuhan yang membalas. Alasannya selalu begitu. Saya kan juga risih. Lha piye…nek terus-terusan yo sengkleh kene” kenang Tudik malam itu.

“Selama hidup saya melihat bapak marah itu cuma dua kali. Namun marahnya bapak tidak langsung diutarakan ke orang yang bersangkutan. Hanya nggerundel di rumah saja.” lanjutnya

Tahun 1996 ia tak lagi menjabat sebagai Kepala Sekolah. Paska itu ia diangkat menjadi pengurus yayasan. Ia pun banyak terlibat dengan aktivitas sosial dan organisasi-organisasi kemasyarakatan. Hal yang sangat digemarinya. Selain tentu saja tetap mengembangkan kesenian tradisional dengan mendirikan sanggar tari di rumahnya.

***

Sanggar tari itu berada di jalan Wilis 25 Pare. Dulu sanggar ini menjadi satu dengan rumahnya. Namun kini ruangannya lebih khusus. Masih sebangun dan berada tepat di sebelah timur rumah. Dia mendirikan sanggar tari tersebut karena melihat putrinya yang kebetulan setelah selesai kuliah di ISI masih belum mendapat pekerjaan. Faktor lain tentu saja karena ia tidak ingin kesenian tradisi ini punah. Harus tetap dikembangkan.

“Sanggar tari ini bernama Tri Mukti. Diambil dari nama kami bersaudara, Mukti dan Tri Irianto nama suami adik saya” jelas Mukti Listyowati yang pagi itu saya temui ketika sedang melatih tari..

Mereka bertiga adalah lulusan ISI Jogjakarta. Mukti Listyowati berkonsentrasi ke tari klasik, Mukti Kusumowati pada komposisi, dan Tri Irianto lebih ke koreografinya. Mereka saling memadukan.

Dia mempercayakan anak-anaknya untuk mengembangkan sanggar Tri Mukti. Sanggar ini mengajari tiga hal. Seni tari, seni rias, dan seni busana. Setelah paket tari selesai, peserta sanggar ini diperkenalkan pada busananya. Jadi para peserta tari tahu busana apa yang hars dipakai dan sesuai dengan jenis tarinya. Baru yang terakhir adalah tata riasnya.

Memang di sanggar ini dia tidak melatih peserta secara langsung. Hanya sebatas sebagai pembina. Namun, pernah pula dia tampil bersama dalam pentas kesenian tradisi. Bukan sebagai seorang penari. Melainkan pemain gamelan.

Ya, Pare di masa itu kerap kali menggelar acara-acara kesenian di sanggar budaya. Hampir-hampir sanggar budaya pada waktu itu tidak pernah sepi dari acara-acara kesenian atau sekadar menjadi tempat latihan tari. Bahkan awal mulanya berdirinya sanggar budaya di Pare ini dia turut serta sebagai konseptor.

***

Tahun 2009 di usianya yang ke 72 tahun lelaki ini mulai sakit. Saat itu adalah saat-saat dimana ia lebih banyak meluangkan waktunya untuk beristirahat di rumah. Mengurangi segala aktivitas sosialnya.

“Saya masih berhubungan dengan beliau. Pada waktu beliau sakit saya menjenguknya. Obrolan kami lebih ke obrolan rohani. Kami percaya bahwa ada kehidupan yang lebih kekal setelah di dunia ini. Jadi kami lebih banyak berbincang tentang makna dan filosofi kehidupan” ungkap Kiswanto kepada saya yang mengenang saat-saat terakhir berbincang dengannya.

Dan di awal tahun 2010 tepatnya pada tanggal 9 Pebruari, lelaki ini akhirnya menghadap Sang Illahi. Suasana duka mewarnai proses pemakamannya. Ia di makamkan di pemakaman Mardi Tresno.

“Ada pesan bijak yang selalu saya ingat dari bapak. Kita itu punya apa di dunia ini? Kita mati tidak membawa apa-apa. Kalimat bijak inilah yang selalu disampaikan ke anak-anaknya” tutur Tudik malam itu kepada saya sembari menikmati segelas teh hangat.

Ya, saya memang telah berkenal dengannya. Namun, perkenalan saya bukanlah sebuah perkenalan dengan jabat tangan atau tatap pandang. Perkenalan saya adalah perkenalan dari sisa-sisa cerita mereka yang begitu dekat dengannya; anak, kerabat, serta jejak-jejak yang ditinggalkannya semasa hidup.

Pagi itu saya beranjang ke tempat peristirahatannya yang abadi di komplek pemakaman Yayasan Mardi Tresno. Tak sulit untuk mencarinya. Kemudian saya pun duduk bertafakur di samping pekuburannya. Memegang nisannya. Saya merasa seolah kami berjabat tangan. Begitu karib. Saya pun lantas merepalkan doa-doa untuknya. Semoga segala amal kebaikannya semasa hidup diterima di sisi-Nya.

Pare patut berbangga punya sosok yang semasa hidupnya begitu teguh dan setia menjaga dinamika kesenian tradisional di tengah arus modernisasi yang melaju begitu kencang. Sejarah telat mencatat namanya. Ia akan selalu dikenang selamanya oleh generasi-generasi baru Pare. Sang penjaga dari Watu Dandang. Dialah Soewoto.

Desa Jambu, Sore menjelang hujan, Maret 2010

Comments
  1. trias says:

    Mantab info Ώÿ̲̣̣̣̥ά, jdi inget dlu masih sekolah. Alumni smp Mardi tresno th.2000 & alumni smk Mardi tresno 2003.

  2. cak Pur says:

    sip sip.. kalo bisa ditambah lagi info sejarahnya y..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s